Indonesia dan Australia kembali memperkuat hubungan di sektor industri kreatif melalui penyelenggaraan Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 yang digelar di berbagai kota di Indonesia. Festival ini tidak hanya menampilkan film internasional, tetapi juga menjadi ruang diplomasi budaya yang mempertemukan sineas, akademisi, pemerintah, serta komunitas kreatif dari kedua negara.
Dalam sesi pembukaan masterclass bertajuk “Storytelling Through the Lens” di Jakarta, sejumlah pihak menekankan peran film sebagai medium untuk membangun pemahaman lintas budaya. Sinema dinilai mampu menghadirkan dialog yang lebih emosional dan dekat dengan masyarakat dibanding pendekatan formal.
Direktur perfilman Kemendikdasmen, Irene, menyampaikan bahwa Indonesia dan Australia memiliki kekuatan yang berbeda dan dapat saling melengkapi dalam pengembangan industri film. Australia dinilai unggul dalam teknologi pascaproduksi dan infrastruktur sinema, sementara Indonesia memiliki kekayaan cerita lokal yang besar.
Menurut Irene, kolaborasi kedua negara membuka peluang bagi sineas Indonesia untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kualitas produksi film nasional. Ia menilai kerja sama seperti masterclass internasional dapat mempercepat pengembangan sumber daya manusia di sektor kreatif.
Sementara itu, Sekretaris Pertama Diplomasi Publik Kedutaan Australia, Kristopher Maslin, mengatakan hubungan kreatif Indonesia dan Australia terus berkembang sejak FSAI pertama kali digelar pada 2016. Ia menyebut festival tersebut kini berkembang menjadi agenda tahunan yang menjangkau sebelas kota di Indonesia.
Maslin menambahkan, festival dibangun atas semangat berbagi cerita dan membangun jembatan kreatif antarbangsa. Selain pemutaran film, FSAI juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang melalui diskusi, pendidikan, serta pengembangan bakat muda.
Dalam forum yang sama, peserta turut membahas kemungkinan penguatan kerja sama produksi bersama atau koproduksi film antara Indonesia dan Australia. Wacana ini dinilai relevan seiring meningkatnya minat penonton terhadap cerita-cerita Asia Pasifik di pasar internasional.
Kehadiran sinematografer Australia Andrew Commis disebut menjadi simbol pertukaran pengalaman kreatif lintas negara. Dalam kesempatan itu, Andrew tidak hanya membahas aspek teknis pengambilan gambar, tetapi juga menekankan pentingnya memahami budaya lokal dalam membangun bahasa visual sebuah film.