Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menilai konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan global. Dampaknya paling terasa bagi negara-negara yang bergantung pada impor pangan, pupuk, dan energi, terutama di Afrika dan Asia Selatan.
Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, mengatakan konflik tersebut menyingkap kerentanan negara-negara dengan produksi domestik yang terbatas. Gangguan di Selat Hormuz—yang disebut sebagai jalur pelayaran paling strategis di dunia—tidak hanya memengaruhi arus energi, tetapi juga berdampak langsung pada produksi pertanian.
FAO mencatat Selat Hormuz saat ini sebagian besar hanya terbuka sebagian untuk lalu lintas menyusul perjanjian gencatan senjata pada 8 April. Kondisi itu memicu lonjakan biaya input dan memberi tekanan besar pada perekonomian yang rentan di kawasan Teluk, Asia Selatan, dan Afrika sub-Sahara.
Selain hambatan transportasi, konflik juga memicu krisis pasokan pupuk dari kawasan Teluk yang merupakan salah satu pusat produksi pupuk terpenting dunia. Kawasan ini memasok porsi besar bahan baku pertanian global: sulfur mencakup hampir setengah penjualan global, urea menyumbang sekitar sepertiga volume perdagangan global, sementara amonia mencakup sekitar 25% pasokan global dan menjadi komponen penting dalam produksi pupuk.
Sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus, sejumlah pabrik pupuk—terutama di Qatar—dilaporkan terpaksa tutup. Situasi tersebut mendorong negara-negara produsen pertanian besar seperti Amerika Serikat dan Australia mencari sumber alternatif. Sementara itu, Brasil sebagai produsen kedelai terbesar dunia disebut mengimpor sebagian besar urea dari Qatar dan Iran, sedangkan India bergantung pada fosfat dari Arab Saudi.
Asia disebut sebagai kawasan yang paling bergantung pada pasokan dari Teluk. Berdasarkan data 2024, kawasan ini mengimpor sekitar 64% amonia serta lebih dari 50% sulfur dan fosfat dari Timur Tengah. Sylvain Pellerin, ahli dari Institut Penelitian Pertanian Prancis (INRAE), memperingatkan kekurangan pupuk nitrogen, fosfat, dan kalium berpotensi mengurangi hasil panen global hingga sepertiga.
Di Afrika, Uni Afrika (AU) dan organisasi PBB memperingatkan konflik berisiko mendorong perekonomian benua itu menuju perlambatan pertumbuhan yang serius. Gangguan pada transportasi dan energi dinilai dapat dengan cepat berubah dari “guncangan perdagangan” menjadi “krisis biaya hidup” akibat lonjakan harga pangan.
Saat ini, sekitar 300 juta orang di Afrika menghadapi kerawanan pangan. Kelaparan disebut berada pada tingkat mengkhawatirkan di Burundi, Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, Somalia, dan Sudan Selatan. Data juga menunjukkan konflik bersenjata menjadi penyebab terbesar dari sekitar 20 krisis pangan, yang memengaruhi hampir 140 juta orang di seluruh dunia dalam setahun terakhir.
Merespons situasi tersebut, organisasi internasional mengusulkan penerapan program pengurangan kemiskinan di tingkat benua, serta perluasan ruang kebijakan fiskal dan moneter untuk meningkatkan ketahanan kelompok rentan.