Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan global. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor pangan, pupuk, dan energi dinilai menghadapi ancaman gangguan pasokan yang serius, terutama di sepanjang jalur transportasi strategis.
Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, menyatakan potensi gangguan di Selat Hormuz dapat langsung memukul sektor pertanian melalui guncangan pasokan energi dan berbagai input produksi. Kawasan Teluk disebut sebagai pusat produksi pupuk penting dunia, yang memasok hampir 50% sulfur, sepertiga urea, serta sekitar 25% perdagangan amonia global.
Sejak ketegangan meningkat, sejumlah pabrik di Qatar dan negara-negara tetangga dilaporkan menangguhkan operasi untuk sementara. Sylvain Pellerin, ahli dari Institut Penelitian Pertanian Prancis (INRAE), memperingatkan bahwa kekurangan pupuk nitrogen, amonium nitrat, dan kalium berpotensi mengurangi hasil panen global hingga sepertiga.
Dampak ketidakstabilan tersebut juga merembet ke negara-negara produsen pertanian utama. Brasil, produsen kedelai terbesar dunia, mengimpor sebagian besar urea dari Qatar dan Iran. India disebut sangat bergantung pada fosfat dari Arab Saudi. Produsen besar lain seperti Amerika Serikat dan Australia turut terdampak karena ketergantungan pada pasokan dari kawasan yang sama.
FAO mencatat Asia saat ini menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan impor sekitar 64% amonia serta lebih dari 50% sulfur dan fosfat dari Timur Tengah. Berdasarkan data 2024, permintaan terhadap input-input tersebut terus meningkat, sehingga menambah tekanan bagi petani menjelang musim tanam di Belahan Bumi Selatan pada Juni.
Uni Afrika (AU) bersama mitra internasional memperingatkan konflik dapat dengan cepat mengubah “guncangan perdagangan” menjadi “krisis biaya hidup.” Kenaikan harga energi dan pangan yang pesat dinilai membuat sekitar 300 juta orang di Afrika berisiko mengalami kerawanan pangan parah.
Laporan AU dan Program Pembangunan PBB (UNDP) menyoroti tingkat kelaparan yang mengkhawatirkan di negara-negara seperti Burundi, Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, Somalia, dan Sudan Selatan. Sejumlah usulan yang mengemuka antara lain penguatan keamanan energi dan pembentukan jaring pengaman keuangan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi menghadapi ketidakstabilan geopolitik yang berkepanjangan.