Tantangan generasi muda Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional dinilai tidak lagi bertumpu pada kemampuan teknis semata, melainkan pada kesiapan mental. Isu tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertema “Fly High and Stay Grounded?” yang digelar Departemen Bisnis dan Hospitality, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Rabu (25/2/2026).
Pemateri utama, Ira Puspadewi, Ph.D., memaparkan pengamatannya mengenai daya saing sumber daya manusia Indonesia di panggung global. Menurut dia, kecerdasan anak bangsa tidak kalah, namun keberanian, daya tahan, serta kesiapan mental untuk menjadi warga global masih perlu diperkuat.
“Saya merasakan sendiri, orang Indonesia itu pintar. Sangat pintar. Tapi mental untuk menjadi warga global masih tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa lain,” kata Ira dalam forum tersebut.
Berbekal pengalaman 17,5 tahun berkarier di perusahaan ritel Amerika GAP, termasuk menangani wilayah Asia untuk sejumlah merek global seperti Banana Republic, Ira menyampaikan perbandingan mental kompetitif Indonesia dengan beberapa negara dan wilayah, antara lain India, Singapura, Hongkong, Taiwan, hingga Filipina.
Ia menilai, banyak orang Indonesia yang sebenarnya mampu secara teknis, tetapi belum cukup kuat dalam mentalitas kompetitif di ranah global. “Kita sering kalah bukan karena skill. Secara kemampuan teknis kita masuk. Tapi mentalitas kompetitif di ranah global itu yang belum kuat,” ujarnya.
Ira mencontohkan hambatan psikologis yang kerap muncul, salah satunya terkait bahasa. Menurut dia, tidak sedikit yang memahami bahasa asing, tetapi masih ragu untuk berbicara aktif. Selain itu, ketahanan emosional untuk hidup jauh dari keluarga juga kerap menjadi ganjalan.
“Sekarang teknologi sudah memudahkan komunikasi. Video call bisa kapan saja. Jadi kalau masih tidak berani keluar karena alasan jauh dari keluarga, itu bukan lagi soal teknologi, tapi mental,” katanya.
Dalam paparannya, Ira juga menegaskan bahwa bekerja di luar negeri atau menjadi diaspora tidak identik dengan kehilangan nasionalisme. Ia menilai kontribusi justru bisa menjadi lebih luas selama tetap membawa nama baik Indonesia.
“Di mana pun kita bekerja, yang penting bikin bangga Indonesia. Kalau nama Indonesia harum karena kerja kita, kesejahteraan bangsa itu akan ikut terangkat,” tegasnya.
Ia turut menyinggung kewajiban moral dan kewajiban hukum, khususnya bagi penerima beasiswa seperti LPDP. Ira mengatakan, selain komitmen hukum yang mengikat, terdapat tanggung jawab moral untuk berkontribusi bagi tanah air.
“Kalau kewajiban hukum tentu harus dipenuhi. Tapi kewajiban moral itu panggilan hati. Masa sebagai orang Indonesia tidak ingin melihat negaranya berkembang karena kontribusinya,” ujarnya.
Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D., menyatakan isu mentalitas global perlu mendapat perhatian serius dalam pendidikan vokasi. Ia menyebut forum tersebut sengaja menghadirkan praktisi dengan rekam jejak global untuk memantik cara pandang mahasiswa.
“Ini bukan sekadar kuliah tamu biasa. Kami ingin mahasiswa Fakultas Vokasi punya mindset global dan melihat bahwa karier hingga ke luar negeri itu sangat mungkin,” katanya.
Meski demikian, Kholid mengingatkan orientasi global tidak boleh membuat mahasiswa tercerabut dari akar nilai. “Silakan punya mimpi besar, silakan berkarier di mana pun, tetapi nilai-nilai lokal tetap harus dipegang. Itu yang kami tekankan,” ujarnya.
Ketua panitia, Dr. Azna Abrory Wardana, S.H., M.H., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin fakultas yang menghadirkan praktisi industri untuk memperkaya perspektif mahasiswa. Kuliah tamu ini diikuti 380 mahasiswa secara luring dan sekitar 100 peserta daring dari tiga program studi di bawah Departemen Bisnis dan Hospitality.
“Pendidikan vokasi adalah pendidikan terapan. Mahasiswa perlu insight langsung dari praktisi agar memahami tantangan riil di dunia industri,” pungkasnya.
Melalui tema “Fly High and Stay Grounded?”, Fakultas Vokasi UB mendorong mahasiswa untuk berani menembus batas global dengan mental yang lebih tangguh, tanpa kehilangan identitas serta tanggung jawab sebagai bagian dari Indonesia.

