Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat seiring eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Rivalitas yang sebelumnya lebih banyak berlangsung melalui tekanan diplomatik dan konflik proksi kini menunjukkan intensitas yang lebih tinggi, memunculkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi dan distribusi energi dunia.
Timur Tengah memiliki posisi strategis bagi perekonomian global karena menjadi jantung perdagangan energi. Salah satu jalur distribusi utama adalah Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Gangguan pada jalur ini kerap berdampak langsung pada harga energi dunia, memicu volatilitas pasar keuangan, serta meningkatkan tekanan inflasi secara global.
Dalam situasi tersebut, eskalasi konflik tidak hanya dipandang sebagai isu keamanan internasional, tetapi juga menjadi ujian bagi stabilitas ekonomi negara-negara yang terintegrasi dengan pasar global, termasuk Indonesia.
Di tengah dinamika global itu, perekonomian Indonesia disebut masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Data Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen, naik dibanding 2024 yang sebesar 5,03 persen. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun, dengan PDB per kapita sekitar Rp83,7 juta atau setara USD 5.083.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga sebagai motor utama ekonomi domestik, disertai investasi dan ekspor yang tetap tumbuh positif. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan, yang disebut menjadi pertumbuhan kuartal akhir tertinggi sejak pandemi.
Capaian ini menggambarkan fondasi ekonomi domestik yang masih cukup kuat, terutama karena struktur ekonomi Indonesia ditopang permintaan domestik yang besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, konsumsi rumah tangga dinilai menjadi bantalan yang membuat perekonomian relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Meski demikian, ketahanan tersebut tidak berarti Indonesia sepenuhnya kebal dari gejolak global. Sebagai negara yang kini berstatus net importer minyak, Indonesia dinilai rentan terhadap lonjakan harga energi dunia. Ketika konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak global, biaya impor energi Indonesia berpotensi ikut meningkat.

