Jakarta — Harga minyak dunia melonjak tajam menyusul eskalasi serangan yang menyasar infrastruktur energi di Iran dan serangan balasan di kawasan. Di tengah ketegangan itu, Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama karena perannya sebagai jalur pengiriman energi paling vital bagi perekonomian dunia.
Pada Minggu (8/3/2026), Israel dilaporkan membombardir sejumlah fasilitas minyak di Iran, termasuk gudang minyak Aghdasieh di timur laut Teheran, depot minyak Shahran di utara kota, kilang minyak di selatan Teheran, serta depot minyak di Karaj, sebelah barat Teheran. Israel juga menyatakan melalui unggahan di X bahwa fasilitas yang disasar terkait pasokan minyak untuk “mesin perang IRGC”.
Di hari yang sama, Bahrain menyatakan force majeure setelah serangan Iran membakar sebagian kilang milik perusahaan AS, Bapco. Pernyataan serupa sebelumnya disampaikan Qatar pada 4 Maret dan Kuwait pada 7 Maret. Serangan juga disebut mengenai depot minyak di bandara Qeshm.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran dapat memicu balasan yang lebih luas di wilayah. “Jika kalian bisa mentolerir harga minyak melebihi US$200 per barel, maka lanjutkan permainan ini,” ujarnya dalam video resmi.
Lonjakan harga minyak sempat membawa harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) mendekati level psikologis US$120 per barel. Pada 9 Maret, WTI tercatat sekitar US$116 per barel, naik hampir dua kali lipat dibanding akhir Februari yang berada di kisaran US$65 per barel sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran. Di Amerika Serikat, harga bensin pada Senin (9/3) dilaporkan mencapai sekitar US$8 per galon atau sekitar Rp35.000 per liter.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyampaikan pernyataan bahwa perang akan segera usai, meski disertai pernyataan yang kembali dinilai ambigu. Setelah itu, harga minyak sempat turun: Brent berada di sekitar US$90 per barel (turun 9,3%) dan WTI sekitar US$86 per barel (turun 8,7%). Namun harga masih jauh di atas level sebelum eskalasi, seiring Iran masih memberlakukan larangan kapal melintas di Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz diumumkan IRGC sejak awal serangan, melalui siaran radio frekuensi pada Sabtu (28/2/2026). Dengan lebar sekitar 33 kilometer, selat ini merupakan jalur utama kapal pengangkut minyak mentah terbesar di dunia. Negara-negara Arab pengekspor minyak mentah dan gas bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirim pasokan energi ke pasar global.
Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari pada 2024. Secara proporsi, jalur ini memasok sekitar 25% minyak dan 30% gas alam cair bagi perekonomian global, terutama Asia. Dalam skenario blokade, perekonomian dunia disebut bisa turun hingga 2%.
Dengan laju pertumbuhan ekonomi global yang menurut Bank Dunia berada di 2,9% bahkan tanpa perang di Timur Tengah, penurunan 2% dinilai dapat menekan pertumbuhan menjadi sangat rendah. Dampak perlambatan juga berpotensi meluas, mengingat pada 2009 ekonomi global menyusut sekitar 1,7% dan memicu PHK massal, penurunan pendapatan, kebangkrutan, serta pelemahan pasar saham.
Ekonom Iklim dan Komoditas dari Capital Economics, Hamad Hussain, menilai lonjakan harga minyak berisiko menambah tekanan inflasi global yang dapat berujung pada pengetatan moneter, terutama di negara berkembang.
Dari Indonesia, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla mengingatkan perang di Iran dapat berdampak pada perekonomian nasional karena ketergantungan Indonesia pada impor minyak dari negara-negara Arab. Ia menilai gangguan distribusi dan stok akan memengaruhi ketersediaan BBM. “Sekarang pasti stop. Jadi ekonomi kita akan terkena di situ,” kata Jusuf Kalla dalam keterangan persnya, Minggu (1/3/2026).
Kepala Center of Food Energy and Sustainable Development (INDEF), Abra Talattov, menyebut eskalasi perang dapat memicu penurunan produksi minyak mentah dan berisiko meningkatkan beban subsidi pemerintah jika harga minyak naik. Ia mencontohkan situasi 2022 saat perang Rusia-Ukraina mendorong harga minyak mentah hingga sekitar US$120 per barel. Menurut Abra, saat itu pemerintah masih memiliki fleksibilitas menambah defisit APBN hingga 3% terhadap PDB, namun ia menyebut fleksibilitas tersebut kini tidak ada. “Misal minyak mentah capai U$100 per barel pemerintah punya keterbatasan untuk menambah subsidi dan kompensasi energi,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas TV.
Abra juga memperkirakan harga BBM nonsubsidi mulai terdampak pada Maret. Ia menilai kenaikan harga minyak dunia di atas 10% hingga 20% pada akhirnya akan memengaruhi daya beli masyarakat.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyoroti risiko pelemahan rupiah yang dapat memperberat beban APBN, khususnya untuk subsidi dan kewajiban dalam valuta asing. Menurutnya, setiap pelemahan rupiah 100 poin terhadap dolar AS dapat meningkatkan beban APBN sekitar Rp6,1 triliun, sementara tambahan pendapatan sekitar Rp5,3 triliun. “Akibatnya, defisit tetap melebar sekitar Rp0,8 triliun untuk setiap pelemahan Rp100. Jika rupiah melemah hingga Rp1.500, maka tambahan tekanan terhadap defisit bisa mencapai sekitar Rp12 triliun,” kata Yusuf sebagaimana dilansir Antara.
Dari sisi pasokan, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono memaparkan bahwa total impor migas Indonesia per Januari 2026 mencapai US$891,8 juta. Rinciannya, impor migas dari Arab Saudi sebesar US$267,4 juta, Uni Emirat Arab (UEA) US$200,6 juta, Qatar US$1,8 juta, dan Oman US$67,9 juta. “Dari negara-negara itu, Arab Saudi dan UEA berkontribusi paling besar terhadap total impor migas Indonesia, masing-masing sebesar 8,84% dan 6,34%,” kata Ateng dalam siaran BPS.
Ateng juga menyebut Indonesia mengimpor komoditas dari Iran senilai US$8,4 dengan komoditas seperti buah-buahan, besi dan baja, serta mesin dan peralatan mekanik. Sementara nilai ekspor Indonesia ke Oman disebut sebesar US$428,8 juta dengan komoditas utama lemak dan minyak hewani/nabati, kendaraan dan suku cadang, serta mineral.
Di tengah ketegangan yang menekan Selat Hormuz, disebutkan AS dan Rusia berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak. Minyak Urals dilaporkan naik hampir 50% dari US$45 sebelum perang menjadi US$80 per barel pada akhir pekan lalu, dan kemudian berada di kisaran US$100 per barel. Disebutkan pula Rusia menjual minyak ke India di atas harga Brent dengan selisih hingga US$5 sekitar US$100 per barel.
Untuk merespons risiko gangguan pasokan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah telah melakukan diversifikasi pasokan minyak. Ia mengatakan PT Pertamina (Persero) telah meneken kesepakatan dengan sejumlah perusahaan energi asal AS. “Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, dengan Chevron, Exxon, dan lain-lain,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Airlangga juga menilai konflik yang meluas dapat mendorong peningkatan kapasitas produksi minyak AS dan negara-negara anggota OPEC untuk menekan harga. Ia menyatakan pemerintah akan memantau perkembangan situasi sebelum menentukan langkah lanjutan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

