Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak lagi dipandang semata sebagai isu geopolitik. Ketegangan di kawasan yang menjadi salah satu sumber energi utama dunia itu kini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan, sekaligus mendorong lonjakan harga minyak mentah global.
Dampaknya dinilai dapat merembet ke berbagai negara, termasuk pada kebutuhan rumah tangga dan aktivitas industri. Sejumlah negara maju disebut memiliki bantalan fiskal untuk mengamankan stok domestik, namun negara berkembang dengan ruang fiskal terbatas menghadapi tekanan lebih besar akibat naiknya biaya impor energi. Kondisi tersebut berisiko memicu pemadaman listrik massal hingga meningkatkan ancaman gagal bayar utang.
Salah satu faktor yang memperbesar kepanikan pasar adalah risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia. Jika jalur ini terhambat, distribusi minyak berpotensi tersendat dan memicu efek domino, termasuk memburuknya neraca pembayaran negara-negara pengimpor energi.
Situasi itu memperlihatkan kerapuhan ketahanan energi global. Ketika harga energi melonjak, beban ekonomi cenderung bergeser ke negara-negara yang tidak memiliki cadangan devisa kuat untuk menahan guncangan.
Dalam laporan tersebut, lima negara disebut menghadapi tekanan paling serius akibat krisis energi global.
Kuba dilaporkan mengalami pemadaman listrik total. Situasi ini diperparah oleh tekanan politik dari Amerika Serikat, termasuk ancaman tarif terhadap negara-negara pemasok minyak ke Kuba yang membuat pulau itu semakin terisolasi dari akses bahan bakar. Dampaknya disebut meluas, mulai dari pembatalan ribuan operasi medis, lumpuhnya sektor pariwisata, hingga warga yang terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebut mengusulkan rencana aksi senilai USD 94,1 juta untuk menjaga layanan dasar dan melobi AS agar mengizinkan bantuan energi atas dasar kemanusiaan.
Sri Lanka, yang sebelumnya sempat mengalami kebangkrutan ekonomi, kembali terpukul oleh kenaikan harga energi. Minimnya cadangan devisa membuat pemerintah kesulitan mengimpor bahan bakar secara stabil. Dampak yang disorot antara lain berhentinya operasional sejumlah perusahaan serta sistem pendidikan yang terpaksa beralih ke daring karena kelangkaan energi untuk transportasi dan listrik sekolah.
Nepal digambarkan menghadapi krisis yang terlihat dari antrean panjang warga untuk mendapatkan gas memasak. Ketergantungan pada impor energi dan terbatasnya pasokan domestik membuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi semakin rentan.
Pakistan disebut berada dalam posisi sangat rawan, dengan cadangan devisa yang berada di bawah batas minimum IMF. Kondisi ini membatasi kemampuan Pakistan membeli energi di pasar internasional. Pelemahan mata uang dan risiko penutupan Selat Hormuz dinilai dapat mengancam keberlangsungan pabrik-pabrik besar, sementara negara itu disebut sangat bergantung pada bantuan dana internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Mesir menghadapi tekanan ganda berupa ketergantungan impor energi dan beban utang luar negeri yang disebut mencapai USD 29 miliar tahun ini. Kenaikan harga minyak global dinilai secara langsung memperlebar defisit transaksi berjalan, sehingga ruang gerak pemerintah semakin sempit.
Secara umum, krisis energi ini menegaskan keterkaitan antara stabilitas ekonomi nasional dan keamanan geopolitik global. Negara-negara yang terdampak disebut menghadapi pilihan sulit: menaikkan subsidi yang membebani anggaran atau membiarkan harga mengikuti pasar yang berisiko memicu keresahan sosial.
Tanpa gencatan senjata atau stabilisasi di kawasan Timur Tengah, ancaman gagal bayar dan penurunan kesejahteraan di negara-negara berkembang diperkirakan tetap membayangi sepanjang tahun ini.

