BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Aksi Risk-Off, IHSG Tertekan hingga 3,05% pada 13 Maret 2026

Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Aksi Risk-Off, IHSG Tertekan hingga 3,05% pada 13 Maret 2026

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase yang lebih serius seiring konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini tidak hanya meningkatkan ketidakpastian di kawasan, tetapi juga memicu gejolak pada pasar energi dan pasar keuangan global, yang kemudian merembet ke pasar modal Indonesia.

Pasar ekuitas global menutup pekan kedua Maret dengan pelemahan di tengah meningkatnya ketegangan militer. Berdasarkan data penutupan Jumat (13/3), indeks S&P 500 turun 0,61% ke level 6.632,19, sekaligus mencatat koreksi mingguan ketiga berturut-turut. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi terkoreksi lebih dalam, turun 0,93% ke posisi 22.105,36.

Pelemahan tersebut dipengaruhi kekhawatiran investor atas potensi gangguan pasokan energi global di Selat Hormuz, jalur yang disebut vital bagi sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Di saat yang sama, pasar juga mencermati risiko lonjakan inflasi yang dapat membuat kebijakan moneter ketat bertahan lebih lama.

Tekanan turut menjalar ke bursa Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,16% atau merosot 633 poin ke level 53.819,61. Jepang sebagai importir energi dinilai rentan terhadap volatilitas harga komoditas. Data Federal Reserve Bank of St. Louis (FRED) menunjukkan Nikkei kehilangan sekitar 8,5% dalam dua minggu sejak eskalasi militer memanas pada akhir Februari.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melonjak 9,22% hingga menyentuh USD 100,46 per barel. Kenaikan ini menambah tekanan inflasi yang dinilai dapat mengganggu pemulihan ekonomi global, di tengah target stabilisasi CPI Amerika Serikat di kisaran 2%.

Dalam kondisi tersebut, sentimen “risk-off” menguat dan mendorong rotasi investasi dari aset berisiko menuju aset yang dianggap aman (safe haven). Perhatian pelaku pasar juga mengarah pada durasi konflik, dengan risiko stagflasi disebut menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi makro global hingga sisa kuartal pertama 2026.

Dampak sentimen global itu tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, IHSG anjlok 224,9 poin atau turun 3,05% ke level 7.137,21. Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia bergerak di zona merah.

Penurunan tersebut menempatkan IHSG sebagai salah satu bursa dengan kinerja terlemah di Asia pada hari itu. Secara mingguan, pada periode 9–13 Maret 2026, IHSG melemah 5,91% dari 7.585,68 menjadi 7.137,21. Seiring koreksi indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut sekitar 6,96% menjadi Rp12.678 triliun.

Koreksi tajam ini mencerminkan perubahan sikap investor global yang cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga energi. Dalam situasi seperti ini, investor internasional kerap melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang dan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman seperti dolar AS, obligasi pemerintah AS, atau emas.

Meski demikian, volatilitas jangka pendek juga kerap muncul akibat faktor psikologis pasar, dan dalam banyak kasus bersifat sementara. Di sisi lain, Indonesia disebut masih memiliki faktor penopang seperti stabilitas sistem perbankan, pertumbuhan konsumsi domestik, serta basis investor domestik yang membesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam konteks itu, eskalasi konflik global dipandang tidak hanya sebagai ancaman bagi pasar modal Indonesia, tetapi juga pengingat pentingnya ketahanan struktur pasar keuangan nasional. Penguatan basis investor domestik dan stabilitas kebijakan makroekonomi menjadi elemen yang dinilai penting agar pasar tidak terlalu rentan terhadap arus modal jangka pendek.

Konflik geopolitik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat cepat tercermin di layar perdagangan Bursa Efek Indonesia. Realitas ini menunjukkan bagaimana perang di satu kawasan dapat menggerakkan sentimen investor secara global, sekaligus menegaskan bahwa pemahaman atas dinamika risiko dan ekspektasi pasar menjadi kunci bagi pelaku pasar dalam menghadapi gejolak.