BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik Timur Tengah Guncang Ekonomi Global, Harga Minyak Melonjak dan Rantai Pasok Terganggu

Eskalasi Konflik Timur Tengah Guncang Ekonomi Global, Harga Minyak Melonjak dan Rantai Pasok Terganggu

Konflik yang kian memanas di Timur Tengah mulai mengguncang ekonomi global. Eskalasi yang melibatkan serangan terhadap infrastruktur energi memicu lonjakan harga minyak dunia, meningkatkan risiko inflasi, serta mengganggu rantai pasok di berbagai negara. Sejumlah pemerintah dan pelaku industri pun bergerak cepat menyiapkan langkah darurat untuk meredam tekanan yang meluas.

Harga minyak dunia melonjak tajam setelah serangan Israel menghantam fasilitas Iran di ladang gas utama di Teluk. Minyak Brent sempat naik lebih dari 6% hingga mendekati US$110 per barel, sebelum ditutup di level US$107,38 per barel atau sekitar Rp1,67 juta (asumsi kurs Rp15.600/US$), naik 3,8%.

Serangan tersebut menargetkan ladang gas raksasa South Pars/North Dome yang disebut menyuplai sekitar 70% kebutuhan gas domestik Iran. Perkembangan ini memperbesar kekhawatiran pasar atas pasokan energi, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) menaikkan proyeksi inflasi di tengah ketidakpastian akibat konflik, meski suku bunga tetap dipertahankan. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dalam waktu dekat. “Kami memperkirakan harga energi yang lebih tinggi akan meningkatkan inflasi dalam waktu dekat,” ujarnya, seraya menambahkan dampak lanjutan masih belum pasti.

Ketegangan energi juga meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk. QatarEnergy melaporkan kebakaran akibat serangan berhasil dikendalikan, namun tetap menyebabkan kerusakan luas. Arab Saudi juga disebut mencegat lima drone yang mengarah ke fasilitas energi, sementara Uni Emirat Arab menghadapi ancaman rudal.

Merespons tekanan biaya energi, Presiden AS Donald Trump untuk sementara mencabut Undang-Undang Jones selama 60 hari. Kebijakan ini memungkinkan kapal asing mengangkut kargo antar pelabuhan AS, dengan tujuan menekan lonjakan biaya energi.

Di Eropa, Italia mengambil langkah cepat dengan memangkas harga bahan bakar sekitar 0,25 euro per liter atau sekitar Rp4.200, serta memberikan insentif pajak bagi pengemudi truk. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menahan dampak kenaikan biaya logistik dan distribusi.

Gangguan pasokan juga terlihat pada jalur ekspor energi. Irak mulai mengekspor minyak secara terbatas melalui Turki dengan volume sekitar 250.000 barel per hari, jauh di bawah kapasitas normal 3,5 juta barel per hari. Pada saat yang sama, impor gas Irak dari Iran dilaporkan terhenti sepenuhnya, menambah tekanan energi di kawasan.

Di sektor industri dan logistik, harga bahan bakar kapal dilaporkan melonjak hingga hampir dua kali lipat akibat krisis logistik di Timur Tengah, pada tingkat yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya”. Di Asia, perusahaan petrokimia besar seperti Mitsubishi Chemical, Mitsui Chemicals, dan LG Chem mulai memangkas produksi karena pasokan nafta terganggu.

Berbagai upaya global juga ditempuh untuk meredam risiko. Organisasi Maritim Internasional (IMO) menggelar pertemuan darurat untuk membahas keamanan pelayaran, termasuk kemungkinan pembentukan koridor maritim aman di Teluk Persia. Korea Selatan mengamankan tambahan 18 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab melalui jalur alternatif tanpa melewati Selat Hormuz.

Di Asia Selatan, Sri Lanka meminta masyarakat menghentikan pengisian daya kendaraan listrik pada malam hari guna menjaga stabilitas pasokan listrik. Secara keseluruhan, eskalasi konflik di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi telah menjalar ke ekonomi global melalui lonjakan harga energi, tekanan inflasi, dan gangguan rantai pasok.