BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik Iran-Israel Dorong Risiko Inflasi AS 4,2% dan Tekan Prospek Ekonomi Global

Eskalasi Konflik Iran-Israel Dorong Risiko Inflasi AS 4,2% dan Tekan Prospek Ekonomi Global

Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah memunculkan guncangan baru bagi perekonomian global. Eskalasi perang antara Iran dan Israel dinilai tidak hanya berdampak pada geopolitik kawasan, tetapi juga memicu lonjakan harga energi yang berimbas pada inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperingatkan bahwa dampak konflik tersebut berpotensi menghapus momentum perbaikan ekonomi global yang sebelumnya mulai terlihat pada awal 2026. Ketidakpastian pasokan energi dan meningkatnya tekanan harga menjadi faktor utama yang memperburuk risiko ekonomi dalam periode ini.

Di Amerika Serikat, OECD memperkirakan inflasi dapat mencapai 4,2% pada 2026, terutama akibat lonjakan harga energi yang dipicu ketidakpastian pasokan minyak global. Proyeksi itu berada jauh di atas target inflasi jangka panjang bank sentral AS, sehingga mempersempit ruang bagi pelonggaran suku bunga ketika tekanan harga kembali meningkat.

Bagi perekonomian terbesar dunia, inflasi yang lebih tinggi berisiko menekan konsumsi rumah tangga dan investasi korporasi—dua komponen utama yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi AS.

Sumber guncangan utama berasal dari sektor energi. Konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menopang sekitar 30% perdagangan minyak global. Ancaman gangguan pada jalur tersebut dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah dalam waktu singkat.

Kenaikan harga energi biasanya segera merembet ke biaya produksi, distribusi, dan transportasi di berbagai negara. Dampaknya bersifat luas: negara importir energi menghadapi kenaikan biaya impor, sementara tekanan inflasi dapat menyebar ke harga pangan, manufaktur, hingga jasa.

OECD juga menilai guncangan energi berpotensi memangkas laju pertumbuhan global apabila harga minyak bertahan tinggi dalam periode yang panjang. Ketidakpastian geopolitik turut membuat investor menunda ekspansi bisnis dan belanja modal, sehingga memperbesar risiko perlambatan ekonomi.

Kombinasi inflasi yang tinggi dan pertumbuhan yang melemah memunculkan risiko “stagflasi ringan”, kondisi yang kerap dihindari pembuat kebijakan karena sulit diatasi melalui instrumen moneter konvensional.

Di pasar keuangan, ketidakpastian geopolitik dan inflasi mendorong volatilitas. Investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah, sementara pasar saham berpotensi lebih fluktuatif. Dalam jangka pendek, sektor energi dan pertahanan kerap menjadi pihak yang diuntungkan, namun ketidakpastian berkepanjangan dapat menekan sektor riil secara lebih luas.

Negara berkembang disebut sebagai kelompok yang paling rentan terhadap guncangan energi. Ketergantungan pada impor minyak membuat lonjakan harga langsung membebani anggaran negara dan neraca perdagangan. Kenaikan biaya energi juga dapat meningkatkan harga logistik dan bahan pangan, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Dalam situasi ini, pemerintah di berbagai negara perlu menyiapkan skenario mitigasi, termasuk opsi subsidi energi atau penyesuaian fiskal untuk menjaga stabilitas. Di sisi lain, bank sentral global menghadapi dilema: mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi berisiko melemahkan pertumbuhan, sementara penurunan suku bunga terlalu cepat dapat membuat inflasi semakin sulit dikendalikan.

Dengan proyeksi inflasi AS yang dapat menembus 4,2%, kekhawatiran terhadap jalur energi strategis yang mengalirkan sekitar 30% perdagangan minyak dunia, serta potensi perlambatan pertumbuhan global, konflik Timur Tengah kini menjelma menjadi sumber tekanan ekonomi yang meluas. Jika konflik berlarut, inflasi dan ketidakpastian pasar diperkirakan menjadi tantangan utama bagi ekonomi dunia sepanjang 2026.