Memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global. Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut mempercepat eskalasi, sehingga ketegangan meluas dan mulai berdampak di luar medan perang.
Gejolak tersebut tercermin pada pergerakan pasar keuangan dan komoditas. Harga minyak melonjak, pasar saham bergejolak, sementara rantai pasok internasional mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan. Jika konflik berkepanjangan, tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi dinilai dapat merembet ke dunia kerja di banyak negara.
Pasar global bereaksi cepat
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah langsung mengguncang pasar keuangan global. Pada awal pekan di bulan Maret, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak tajam, sementara kontrak berjangka saham melemah.
Analis energi menilai harga minyak berpotensi naik dalam waktu singkat, salah satunya karena pengalihan puluhan kapal tanker dari Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat pada 2024, aliran minyak melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai 20 juta barel per hari, atau sekitar 20% dari konsumsi cairan minyak bumi global.
Kenaikan harga minyak berisiko mendorong harga bahan bakar di berbagai negara. Di Amerika Serikat, misalnya, harga bensin diperkirakan dapat melampaui rata-rata US$3 per galon untuk pertama kalinya tahun ini. Kondisi itu dapat menekan sektor transportasi, logistik, dan usaha kecil yang sensitif terhadap biaya energi.
Risiko inflasi global meningkat
Konflik juga berpotensi memicu kenaikan inflasi. Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperkirakan ekonomi global masih dapat tumbuh sekitar 3,3% pada tahun ini, namun ketegangan geopolitik terbaru membuat proyeksi tersebut berada dalam ketidakpastian.
Ekonom memperingatkan lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi di banyak sektor. Kenaikan biaya produksi berpotensi mendorong harga barang dan jasa, sehingga inflasi menjadi lebih sulit dikendalikan.
Jika inflasi naik, bank sentral di berbagai negara dapat menahan penurunan suku bunga atau bahkan menaikkannya. Dampaknya, biaya pinjaman bagi perusahaan dan rumah tangga meningkat, yang pada akhirnya berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan pembukaan lapangan kerja.
Selat Hormuz jadi titik kunci
Besarnya dampak ekonomi konflik ini sangat bergantung pada situasi di Selat Hormuz, jalur laut sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi pintu utama pengiriman minyak dan gas alam dari Timur Tengah ke berbagai negara.
Jika jalur tersebut terganggu atau ditutup dalam waktu lama, pasokan energi global dapat mengalami guncangan besar. Sejumlah analis memperkirakan harga gas alam di Eropa bisa meningkat lebih dari dua kali lipat apabila pengiriman melalui selat tersebut terhenti lebih dari dua bulan.
Kerentanan Eropa disebut meningkat karena cadangan energi di kawasan itu lebih rendah dibandingkan beberapa tahun terakhir, sehingga lebih sensitif terhadap lonjakan harga menjelang musim dingin.
Asia dinilai paling rentan
Negara-negara Asia termasuk yang paling rentan terdampak krisis energi karena ketergantungan pada pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz. Secara total, Asia menerima 89,2% dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat yang melintasi jalur tersebut.
China menjadi tujuan terbesar dengan porsi 37,7% dari total volume, disusul India 14,7%, Korea Selatan 12,0%, dan Jepang 10,9%. Negara-negara Asia lainnya secara gabungan menyerap 13,9%.
Jika harga energi bertahan tinggi, negara-negara Asia berpotensi menghadapi inflasi yang lebih tinggi. Perkiraan ekonom menyebut inflasi di banyak negara Asia dapat naik sekitar setengah persen bila harga minyak bertahan pada level saat ini. Situasi ini menjadi tantangan tambahan bagi China yang tengah berupaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
Rantai pasok mulai terganggu
Dampak konflik juga terlihat pada jalur perdagangan. Di India, lebih dari 400 ribu ton beras basmati dilaporkan tertahan di pelabuhan akibat terganggunya pengiriman ke Timur Tengah. Sekitar 75% ekspor beras basmati India biasanya dikirim ke kawasan tersebut.
Gangguan rantai pasok tidak hanya menyangkut pangan. Bahan baku penting untuk produksi pupuk turut terancam karena sebagian besar perdagangan urea dunia melewati Selat Hormuz. Harga urea global bahkan dilaporkan naik sekitar 35% dalam satu pekan. Mengingat pupuk merupakan komponen penting dalam produksi pangan, kenaikan harga pupuk berpotensi berdampak pada harga pangan di berbagai negara.
Tekanan ke dunia kerja
Ketika biaya energi meningkat dan rantai pasok terganggu, perusahaan di berbagai sektor umumnya melakukan penyesuaian biaya. Dampak yang sering muncul adalah pengurangan tenaga kerja atau penundaan perekrutan.
Perusahaan kecil dan menengah dinilai paling rentan karena kemampuan menahan kenaikan biaya produksi lebih terbatas. Pada saat yang sama, tekanan pasar tenaga kerja juga datang dari perubahan teknologi. Sejumlah perusahaan teknologi besar melakukan efisiensi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan. Studi dari MIT memperkirakan teknologi AI dapat menggantikan sekitar 11,7% pekerjaan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Jika tekanan geopolitik dan transformasi teknologi terjadi bersamaan, pasar tenaga kerja global berpotensi mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun ke depan. Apabila konflik berlangsung lama dan melibatkan lebih banyak negara, risiko krisis ekonomi global dinilai meningkat karena kombinasi lonjakan harga energi, gangguan perdagangan, dan ketidakpastian pasar yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

