BERITA TERKINI
Eropa Desak AS Tahan Diri Usai Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran, Kekhawatiran atas Masa Depan JCPOA Menguat

Eropa Desak AS Tahan Diri Usai Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran, Kekhawatiran atas Masa Depan JCPOA Menguat

Sejumlah negara Eropa bereaksi keras terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran pada Ahad, 22 Juni 2025. Prancis, Jerman, dan Spanyol termasuk di antara negara yang secara terbuka mendesak Washington menahan diri dan mencegah eskalasi lebih lanjut.

Uni Eropa dalam pernyataan resminya menilai tindakan sepihak AS berisiko menggagalkan upaya diplomasi yang telah dibangun bertahun-tahun, terutama terkait kelanjutan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). JCPOA, yang disepakati pada 2015, merupakan kesepakatan internasional yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Meski AS di bawah Presiden Donald Trump menarik diri dari JCPOA pada 2018, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman tetap berupaya mempertahankan kesepakatan tersebut. Namun serangan AS terhadap Iran kembali menguji komitmen dan kapasitas Eropa dalam menjaga stabilitas di Timur Tengah.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Eropa menyampaikan keprihatinan atas potensi terganggunya mandat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam mengawasi program nuklir Iran. Sejumlah diplomat Uni Eropa menilai jalur diplomasi tetap krusial bagi stabilitas kawasan, sementara tindakan militer sepihak dinilai berisiko merusak kredibilitas institusi internasional dan mengancam perdamaian regional.

Namun, sikap negara-negara Eropa tidak sepenuhnya seragam. Sebagian negara disebut lebih vokal mengkritik langkah Washington dan menyerukan pemulihan JCPOA sebagai kerangka penyelesaian damai. Sementara negara lainnya cenderung lebih berhati-hati untuk menjaga hubungan strategis dengan AS sebagai mitra transatlantik utama. Perbedaan ini memunculkan keraguan terhadap efektivitas Uni Eropa dalam memainkan peran sebagai penengah yang netral dan konsisten.

Ketidaksamaan posisi internal tersebut turut memperlemah kemampuan Uni Eropa merespons situasi yang dinilai dinamis dan berisiko tinggi. Di tengah meningkatnya eskalasi dan menyempitnya ruang diplomasi, tuntutan agar Eropa tampil sebagai aktor mediasi yang kredibel semakin besar. Namun tanpa kesatuan sikap dan ketegasan langkah, peran tersebut dinilai sulit dijalankan secara efektif.

“Jika eskalasi ini terus berlangsung, JCPOA bisa benar-benar runtuh. Dan itu akan menjadi kegagalan diplomatik besar, bukan hanya bagi Iran dan AS, tapi juga bagi Eropa,” ujar seorang diplomat senior Uni Eropa yang tidak ingin disebut namanya.

Pekan lalu, perwakilan Uni Eropa menggelar pertemuan darurat dengan delegasi Iran di Jenewa. Pertemuan yang dimediasi oleh Swiss itu bertujuan meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur komunikasi terkait pengayaan uranium serta inspeksi IAEA.

Namun Eropa dilaporkan menghadapi kesulitan karena Iran menolak kembali ke meja perundingan selama AS terus melancarkan operasi militer. Di sisi lain, Washington menilai Iran telah melanggar kesepakatan dengan tetap memperkaya uranium melebihi batas yang disepakati.

Situasi ini mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi Eropa. Di satu sisi, sejumlah negara seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol menolak tindakan sepihak AS yang dinilai mengancam stabilitas kawasan dan merusak upaya diplomasi bertahun-tahun. Di sisi lain, sebagian negara berupaya menjaga prinsip multilateralisme sekaligus mempertahankan relasi strategis dengan Washington. Tanpa kejelasan arah dan kesatuan strategi, respons Eropa berisiko kurang efektif dalam meredakan krisis yang terus berkembang.