Jakarta — Lembaga riset Elev8 memproyeksikan pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian sepanjang 2026. Dalam laporannya, Elev8 menyoroti potensi pelemahan moderat dolar AS, prospek logam mulia yang tetap kuat, serta kemungkinan Bitcoin bergerak dalam fase konsolidasi.
Analis Elev8 Kar Yong Ang menyatakan transisi bank sentral AS (The Fed) menuju rezim suku bunga netral di bawah kepemimpinan baru berpotensi menekan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) diperkirakan melemah secara moderat.
Menurut laporan tersebut, penguatan kembali DXY ke level 95,5 masih mungkin terjadi. Namun, pergerakan berkelanjutan di bawah 92,5 dinilai membutuhkan katalis fundamental yang signifikan. Secara teknis, penurunan di bawah 92,5 disebut dapat menandai putusnya garis tren bullish utama sejak 2014 dan membuka peluang penurunan menuju 89,70, yang disebut sebagai level terendah dalam lima tahun.
Di sisi logam mulia, emas dan perak yang sempat mencetak rekor tertinggi (all time high/ATH) disebut mulai berbalik arah. Meski demikian, Elev8 menilai secara fundamental keduanya masih berada dalam tren yang sangat bullish.
Prospek tersebut dikaitkan dengan penurunan suku bunga riil, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed. Selain itu, bank sentral di berbagai negara juga dilaporkan terus menambah cadangan logam mulia.
Sementara itu, pasar kripto dinilai memulai 2026 dalam tekanan. Bitcoin disebut sempat merosot tajam hingga level USD60.000. Meski kemudian bergerak naik, nilainya masih tercatat turun sekitar 17% sejak awal tahun.
Elev8 menilai pasar kripto kekurangan katalis yang cukup kuat untuk mendorong reli berkelanjutan menuju rekor harga baru pada 2026. Walau lanskap regulasi disebut semakin matang, momentum untuk terobosan legislatif lebih lanjut dinilai telah terhenti.
Dengan kebijakan moneter global yang bergeser dari pelonggaran agresif menuju fase yang lebih ketat, laporan itu menyebut sulit membayangkan Bitcoin menembus rekor tertinggi baru tahun ini. Sebaliknya, skenario yang dinilai paling mungkin adalah periode konsolidasi mendatar yang berkepanjangan sepanjang 2026.
Selain proyeksi aset, Elev8 juga mengidentifikasi empat risiko utama yang berpotensi memicu gejolak ekonomi global pada 2026. Risiko pertama adalah potensi pecahnya gelembung kecerdasan buatan (AI). Laporan itu menyebut perusahaan teknologi besar AS—Google, Microsoft, Meta, dan Amazon—secara kolektif berencana menggelontorkan USD600 miliar untuk AI pada tahun ini.
Belanja modal besar tersebut memunculkan pertanyaan terkait kelayakan ekonomi sejumlah proyek AI dan dikhawatirkan berdampak lebih luas terhadap pertumbuhan ekonomi AS maupun global. Jika investasi AI gagal dimonetisasi secara efektif, laporan itu memperingatkan saham AS dapat anjlok, AS berisiko masuk resesi, dan The Fed dapat terdorong melakukan pemangkasan suku bunga secara agresif.
Risiko kedua adalah guncangan harga minyak. Elev8 menyoroti Rusia sebagai eksportir minyak terbesar kedua dunia masih menghadapi sanksi internasional yang membatasi produksi. Di saat yang sama, ketegangan AS-Iran disebut mencapai titik kritis. Iran disebut memiliki cadangan terbukti terbesar ketiga di dunia dan berpengaruh atas Selat Hormuz, jalur yang menjadi titik rawan bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Dengan kondisi tersebut, Elev8 menilai terdapat risiko lonjakan tajam harga minyak, meski sifatnya diperkirakan hanya sementara.
Risiko ketiga adalah memanasnya kembali perang dagang AS-China. Laporan itu menyebut kesepakatan perdagangan perlu dinegosiasikan ulang pada suatu waktu di 2026, dan proses negosiasi berpotensi memburuk.
Risiko keempat adalah krisis utang negara. Elev8 menilai investor sejauh ini masih menoleransi kenaikan utang pemerintah, namun kesabaran tersebut memiliki batas. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang di sebagian besar negara industri disebut tidak jauh dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dan hilangnya kepercayaan secara tiba-tiba dapat memicu lonjakan imbal hasil.
Laporan itu juga menyebut, jika pemerintah AS terpaksa kembali memperkenalkan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE) atau menerapkan kontrol kurva imbal hasil (yield curve control/YCC) untuk menstabilkan kenaikan utang nasional, kredibilitas global dolar dapat mengalami kerusakan serius dan berpotensi memicu devaluasi yang jauh lebih tajam. Prancis dan Inggris juga disebut masuk dalam daftar negara yang berisiko.

