BERITA TERKINI
Ekspor Sawit Indonesia 2025 Capai 32,3 Juta Ton, India dan China Tetap Pasar Utama di Tengah Gejolak Global

Ekspor Sawit Indonesia 2025 Capai 32,3 Juta Ton, India dan China Tetap Pasar Utama di Tengah Gejolak Global

Jakarta—Volume ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia sepanjang 2025 tercatat mencapai 32,3 juta ton di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global. Capaian ini naik 9,5% dibandingkan 2024 yang berada di kisaran 29,5 juta ton untuk seluruh komoditas sawit.

India dan China disebut masih menjadi tujuan utama ekspor produk sawit Indonesia. Kinerja ekspor yang meningkat antara lain didorong oleh harga minyak sawit yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya, sehingga permintaan dari negara importir tetap stabil.

Di tengah ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, rantai pasok minyak sawit nasional dilaporkan tetap berjalan. Pengiriman ke pelabuhan tujuan di berbagai negara tetap dilaksanakan sesuai jadwal kontrak yang telah disepakati.

Meski demikian, situasi geopolitik yang tidak menentu berdampak pada aspek pembiayaan distribusi. Biaya logistik pengiriman mengalami kenaikan, sementara premi asuransi perjalanan kapal meningkat hingga 50%. Di sisi lain, eksportir tetap memenuhi kontrak lama, dengan India dan China masih mendominasi permintaan pasar luar negeri.

Dari sisi pasokan, pertumbuhan produksi dalam negeri menjadi faktor pendukung ketersediaan stok ekspor. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi CPO nasional pada 2025 mencapai 51,6 juta ton, meningkat sekitar 7,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi tersebut dikaitkan dengan kondisi cuaca yang mendukung sepanjang 2025 sehingga produktivitas tanaman sawit meningkat. Selain itu, intensitas perawatan kebun oleh petani juga disebut meningkat, seiring harga Tandan Buah Segar (TBS) yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya yang mendorong pemilik lahan memaksimalkan pemupukan.

Pemerintah juga mulai memfokuskan strategi pada penguatan sektor domestik. Selain minyak sawit, komoditas singkong mulai dilirik sebagai bahan baku energi alternatif untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian energi. Pemanfaatan sumber daya lokal dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor yang harganya kerap bergejolak akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.

Sepanjang 2025, total konsumsi domestik minyak sawit tercatat 24,7 juta ton. Dari jumlah itu, penggunaan untuk program biodiesel mencapai 12,7 juta ton, dengan serapan biodiesel meningkat 10,9%.

Peningkatan bauran energi melalui program biodiesel ditujukan untuk memperkuat kedaulatan energi sekaligus menyerap produksi ketika pasar global menghadapi hambatan distribusi, termasuk kendala teknis di jalur pelayaran. Dengan tetap terjaganya ekspor di level 32,3 juta ton, komoditas sawit kembali menegaskan perannya sebagai salah satu sektor strategis yang menopang stabilitas perekonomian nasional.