JAKARTA – Pergeseran besar dalam perdagangan global kian terlihat seiring memanasnya tensi geopolitik. Di tengah merosotnya perdagangan langsung dengan Amerika Serikat (AS), China disebut tengah mengubah perannya dari pengekspor produk jadi menjadi pemasok komponen industri bagi pusat-pusat manufaktur baru di berbagai negara.
Alih-alih mengirimkan barang konsumsi, China kini lebih agresif menyalurkan barang setengah jadi, seperti cip memori, prosesor, baterai litium-ion, dan suku cadang ponsel pintar, terutama ke kawasan Asia Tenggara untuk dirakit pada tahap akhir. Tren ini terekam dalam data perdagangan terbaru yang dianalisis McKinsey Global Institute (MGI), seperti dikutip finance.yahoo.com pada 20 Maret 2026.
Mitra sekaligus penulis laporan MGI, Jeongmin Seong, menyebut ekspor barang konsumen China turun 2% pada tahun lalu. Namun pada saat yang sama, ekspor barang setengah jadi justru naik 9%.
Perubahan ini berlangsung bersamaan dengan penurunan perdagangan AS-China hingga 30% setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor yang tinggi. Menghadapi hambatan tarif tersebut, China disebut memperluas diversifikasi mitra dagang ke negara-negara berkembang yang membutuhkan pasokan mesin dan komponen berbiaya lebih rendah dibandingkan produk jadi.
Seong menilai, meski dunia mungkin semakin jarang membeli produk berlabel “Made in China”, semakin banyak barang yang diproduksi secara global akan memuat komponen inti buatan Tiongkok.
Dalam laporan berjudul Geopolitics and the Geometry of Global Trade, MGI juga mencatat AS telah mengalihkan sekitar dua pertiga impor yang sebelumnya berasal dari China ke negara lain. Contohnya, sumber pasokan ponsel pintar direlokasi ke India, sementara laptop dialihkan ke Asia Tenggara.
Di tengah dinamika perang dagang terbaru, ASEAN dinilai menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kawasan ini disebut berperan penting sebagai penghubung rantai pasok global sehingga membantu mencegah terganggunya sistem perdagangan dunia. Posisi tersebut turut mendorong ekspor ASEAN tumbuh 14%, lebih dari dua kali lipat rata-rata pertumbuhan global.
MGI menilai tren ini berpotensi mempercepat strategi “China plus one”. Dalam konteks itu, koridor perdagangan ASEAN-China dan ASEAN-AS tercatat sebagai dua jalur dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Laporan tersebut juga membantah pandangan bahwa globalisasi telah berakhir. Seong menyatakan fenomena pemulangan manufaktur ke negara asal (onshoring atau reshoring) maupun ke negara tetangga terdekat (nearshoring) tidak terjadi secara luas. Yang berlangsung, menurutnya, adalah konfigurasi ulang arus modal dan barang yang dipengaruhi kedekatan ideologi dan geopolitik.
Negara-negara kini cenderung menanamkan investasi pada mitra yang dianggap sekutu. MGI mencontohkan AS menanamkan modal di Jepang dan Korea Selatan untuk sektor semikonduktor. Sementara itu, China disebut berubah menjadi investor bersih di luar negeri seiring menurunnya aliran modal masuk dari Washington.
MGI mengukur jarak geopolitik untuk penanaman modal asing langsung (FDI) turun 13% pada tahun lalu, sedangkan metrik serupa pada perdagangan turun 7%. Seong menyimpulkan, tarif dagang bisa saja hanya memunculkan dampak jangka pendek, tetapi restrukturisasi rantai pasok global diperkirakan akan bertahan lama.

