BERITA TERKINI
Ekspedisi Pamalayu: Strategi Kertanegara Memperkuat Pengaruh Singhasari di Nusantara

Ekspedisi Pamalayu: Strategi Kertanegara Memperkuat Pengaruh Singhasari di Nusantara

Ekspedisi Pamalayu yang digagas Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari, menjadi salah satu langkah strategis penting di Asia Tenggara pada abad ke-13. Misi ini tidak semata dipahami sebagai penaklukan wilayah, melainkan upaya membangun jaringan kekuasaan maritim yang lebih terintegrasi melalui perpaduan pendekatan militer, diplomasi, dan budaya.

Pada masa pemerintahan Kertanegara (1268–1292 M), kawasan Asia Tenggara berada dalam tekanan eksternal, terutama akibat ekspansi Kekaisaran Mongol. Kedatangan utusan Mongol ke Jawa dengan tuntutan agar Singhasari tunduk dipandang sebagai sinyal ancaman terhadap stabilitas kerajaan. Pada saat yang sama, melemahnya pengaruh Sriwijaya membuka peluang baru dalam perebutan kendali jalur perdagangan strategis, khususnya Selat Malaka.

Dalam konteks tersebut, Kertanegara menggagas konsep “Cakrawartin Mandala Dwipantara”, sebuah visi politik yang menempatkan Nusantara sebagai satu kesatuan wilayah di bawah pengaruh Jawa. Ekspedisi Pamalayu menjadi wujud konkret gagasan ini, dengan sasaran utama Melayu Dharmasraya di Sumatra—wilayah yang dinilai penting karena posisinya sebagai penghubung perdagangan internasional.

Tujuan ekspedisi ini disebut berlapis. Dari sisi militer, Singhasari berupaya mengamankan kawasan barat Nusantara agar tidak menjadi pintu masuk invasi Mongol. Dari sisi diplomatik, Kertanegara mendorong terbentuknya jaringan aliansi dengan kerajaan-kerajaan di luar Jawa. Pertimbangan ekonomi juga menonjol, karena penguasaan jalur perdagangan di Sumatra dipandang dapat membantu mengendalikan distribusi komoditas bernilai tinggi seperti emas, kapur barus, dan rempah-rempah.

Pelaksanaan ekspedisi dimulai pada 1275 M dengan pengiriman armada besar dari Jawa Timur. Pasukan dipimpin Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang, membawa ribuan prajurit menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatra. Dalam perjalanannya, pasukan menghadapi perlawanan lokal dan tantangan geografis, termasuk menyusuri Sungai Batanghari menuju pusat kekuasaan Melayu. Pada tahap awal, ekspedisi ini dilaporkan berhasil menaklukkan Dharmasraya.

Perkembangan penting terjadi pada 1286 M ketika Kertanegara mengirim arca Amoghapasa sebagai simbol persahabatan. Raja Melayu saat itu, Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, menerima hadiah tersebut dan mengakui supremasi Singhasari. Hubungan ini juga diperkuat melalui ikatan pernikahan politik dengan dikirimkannya putri Melayu ke Jawa. Catatan mengenai fase ini disebut tercantum dalam Prasasti Padang Roco.

Dari sisi ekonomi, keberhasilan Ekspedisi Pamalayu dikaitkan dengan perubahan peta perdagangan di kawasan. Singhasari disebut berhasil mengamankan jalur perdagangan utama yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Stabilitas arus perdagangan antara Jawa, Sumatra, India, dan Tiongkok dinilai meningkat, sehingga komoditas dari berbagai wilayah dapat diperdagangkan dengan lebih aman dan berdampak pada pendapatan kerajaan.

Pengaruh ekspedisi ini juga disebut melampaui masa Singhasari. Jaringan perdagangan yang terbentuk kemudian diwarisi oleh Majapahit, yang melanjutkan dominasi maritim pada abad berikutnya. Secara politik, ekspedisi ini dipandang menjadi salah satu fondasi kemunculan kekuatan baru di Nusantara. Setelah Singhasari runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang, para veteran Pamalayu disebut berperan dalam berdirinya Majapahit.

Di bidang sosial-politik, ikatan pernikahan antara elite Jawa dan Melayu memperkuat hubungan antardaerah dan membangun jejaring kekuasaan yang lebih luas. Sementara dari sisi budaya, ekspedisi ini mendorong pertukaran nilai dan tradisi. Pengaruh Buddha Tantrayana disebut menyebar ke Sumatra, sementara unsur seni dan budaya Jawa turut hadir dalam ruang budaya setempat. Akulturasi ini tercermin pada peninggalan seperti arca dan prasasti yang menunjukkan perpaduan pengaruh.

Dengan demikian, Ekspedisi Pamalayu tidak hanya dicatat sebagai peristiwa ekspansi wilayah, tetapi juga sebagai gambaran strategi yang memadukan kekuatan militer, diplomasi, dan budaya untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi. Melalui langkah ini, Kertanegara memperluas pengaruh Singhasari sekaligus meletakkan dasar integrasi yang kelak dilanjutkan pada masa Majapahit.