BERITA TERKINI
Ekspansi Hilirisasi Bauksit di Mempawah: SGAR Fase II dan Smelter Aluminium Ditargetkan Perkuat Pasokan Domestik

Ekspansi Hilirisasi Bauksit di Mempawah: SGAR Fase II dan Smelter Aluminium Ditargetkan Perkuat Pasokan Domestik

JAKARTA – Agenda hilirisasi mineral kembali mencatat perkembangan dengan dimulainya ekspansi fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina serta rencana pembangunan smelter alumunium di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini mencakup kelanjutan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun dan pembangunan smelter aluminium berkapasitas 600 ribu ton aluminium per tahun.

SGAR Fase I sebelumnya mulai beroperasi pada akhir 2024 dan dilanjutkan dengan operasi komersial pada kuartal I 2025. Hampir setahun berselang, proyek SGAR Fase II dilanjutkan dengan kapasitas yang sama. Selain memperkuat pasokan alumina, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) juga mulai membangun fasilitas peleburan aluminium di lokasi yang sama.

Pengembangan ini muncul di tengah kebutuhan aluminium dalam negeri yang disebut mencapai 1,2 juta ton per tahun, sementara kemampuan pasokan domestik belum mencapai 50%. Permintaan aluminium datang dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, konstruksi, kabel listrik, elektronik, hingga energi terbarukan. Kondisi tersebut membuat impor aluminium masih menjadi penopang pemenuhan kebutuhan nasional.

Secara struktural, keterbatasan kapasitas produksi aluminium primer dalam negeri menjadi persoalan utama. Selama beberapa tahun terakhir, produksi nasional sebagian besar ditopang oleh smelter aluminium INALUM di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan produksi rata-rata sekitar 250 ribu–275 ribu ton per tahun. Sebelum beroperasinya SGAR di Mempawah, rantai nilai industri aluminium nasional dinilai belum terintegrasi penuh karena belum memiliki kapasitas refinery alumina yang memadai untuk menopang peleburan aluminium secara berkelanjutan.

Groundbreaking SGAR Fase II dan smelter aluminium di Mempawah mempertegas peta jalan hilirisasi aluminium yang dibangun terintegrasi dari hulu hingga hilir oleh holding industri pertambangan Indonesia di bawah MIND ID bersama entitas anggotanya, seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), INALUM, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Dalam rantai hilirisasi, bauksit ditambang sebagai bahan baku utama. Indonesia disebut memiliki sumber daya bauksit sebesar 329,55 juta metrik ton (MWMT) dan cadangan sebesar 85,69 MWMT per tahun. Bauksit kemudian diolah menjadi alumina. Di Mempawah, BAI telah mengoperasikan SGAR Fase I berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun dan SGAR Fase II direncanakan memiliki kapasitas 1 juta ton per tahun. Tahap ini disebut memberi lompatan nilai tambah hingga 10 kali dibandingkan menjual bauksit mentah.

Selanjutnya, alumina diolah menjadi aluminium primer di smelter. Saat ini smelter Kuala Tanjung yang dioperasikan INALUM memiliki kapasitas 275 ribu ton per tahun, ditambah fase pertama aluminium sekunder sebesar 30 ribu ton per tahun. Rencana pengembangan berikutnya adalah pembangunan Aluminium Smelter II di Mempawah dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun. Pada tahap ini, alumina diproses melalui peleburan dan pencetakan menjadi aluminium ingot, billet, maupun alloy, yang disebut dapat meningkatkan nilai produk hingga tujuh kali lipat dibandingkan tahap sebelumnya.

Kebutuhan energi untuk mendukung hilirisasi juga disiapkan secara terintegrasi. Dalam rencana tersebut, PTBA disebut akan menyiapkan pasokan batubara sekitar 6,5 juta ton per tahun serta kapasitas pembangkit terpasang 1.250 MW.

Aluminium yang telah dicetak kemudian masuk ke industri hilir seperti otomotif dan produk aluminium ekstrusi. Peta jalan ke depan juga mengarah pada produk bernilai tambah tinggi untuk industri pertahanan dan aviasi, termasuk pengembangan produk sheet dan flat aluminium. Secara keseluruhan, rangkaian hilirisasi ini disebut dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi lebih dari 70 kali lipat dibandingkan menjual bahan mentah.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan proyek tersebut diyakini dapat memperkuat kemampuan produksi aluminium dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor. Ia mengatakan hadirnya fasilitas baru dapat menurunkan ketergantungan impor dan berdampak pada peningkatan cadangan devisa. Saat smelter aluminium baru beroperasi, cadangan devisa diperkirakan naik 394% dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. “Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan Negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” kata Maroef saat groundbreaking SGAR Fase II dan Smelter Aluminium di Mempawah, Jumat (6/2).

Meski demikian, industri aluminium dikenal sebagai industri padat energi, dengan sekitar 30–40% biaya produksi berasal dari listrik. Di Indonesia, tarif listrik dan keterbatasan infrastruktur energi disebut menjadi tantangan dalam meningkatkan daya saing aluminium domestik. Karena itu, PTBA direncanakan menyiapkan pasokan listrik berbasis batubara, yang dinilai masih melimpah dan relatif terjangkau dari sisi harga.

INALUM juga menyampaikan arah pengembangan perusahaan. Direktur Pengembangan Usaha INALUM Melati Sarnita mengatakan INALUM diarahkan menjadi perusahaan aluminium terintegrasi yang profitable bertaraf internasional. Dalam lima tahun ke depan, kapasitas dari 275 ribu ton per tahun ditargetkan meningkat menjadi 900 ribu ton per tahun produk aluminium dengan dukungan 2 juta ton alumina dari proyek SGAR 1 dan SGAR 2. Ia juga menyebut konsumsi aluminium Indonesia diproyeksikan naik 600% dalam 30 tahun, didorong sektor kendaraan listrik, baterai, dan energi terbarukan. Saat ini pangsa pasar INALUM disebut 46% di domestik, sehingga 54% kebutuhan aluminium primer masih dipenuhi dari impor. “Karena itu percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi sangat krusial,” kata Melati di kompleks parlemen, Kamis (20/11).

Dari sisi serapan pasar, INALUM disebut telah memenuhi kebutuhan material aluminium pada sejumlah sektor, antara lain ekstrusi (25%), otomotif (15%), manufaktur kabel (26%), manufaktur aluminium lembaran/plat/foil (5%), manufaktur cathodic protection (1%), manufaktur peralatan rumah tangga (1%), serta sektor industri lainnya seperti water treatment, manufaktur galvalume, dan lainnya (2%).

Selain target kemandirian pasokan, hilirisasi juga dikaitkan dengan dampak ekonomi yang lebih luas. Data Kementerian ESDM disebut menunjukkan hilirisasi mineral seperti bauksit, nikel, dan tembaga berkontribusi pada peningkatan nilai ekspor produk olahan mineral, dari sekitar US$ 11 miliar pada 2018 menjadi lebih dari US$ 33 miliar pada 2023.

Untuk hilirisasi bauksit menjadi aluminium, nilai tambah yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar Rp71,8 triliun per tahun atau setara peningkatan 0,32% terhadap PDB nasional tahun 2024. Di tingkat daerah, aktivitas pengolahan bauksit di Mempawah juga dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi lokal. Berdasarkan data BPS Pemerintah Kabupaten Mempawah, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut bergerak dari 4,7% pada 2022 menjadi 5,09% pada 2023 dan meningkat menjadi 6,62% pada 2024. Tingkat pengangguran pada 2024 tercatat 6,78%, turun dari 7,48% (2022) dan 7,33% (2023). Angka kemiskinan juga disebut turun menjadi 4,78% pada 2024 dari 5,32% (2022) dan 5,31% (2023).

Sementara itu, BPS mencatat perekonomian Kalimantan Barat pada 2025 tumbuh 5,39%, meningkat dibanding 2024 sebesar 4,90%. Dari sisi lapangan usaha, sektor Pertambangan dan Penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 31,4%.

Bupati Mempawah Erlina menilai dampak ekonomi dari proyek hilirisasi mulai dirasakan masyarakat. Usaha pendukung di sekitar kawasan industri disebut berkembang, seperti homestay, rumah kos, dan usaha kuliner. “Dengan adanya proyek ini, kebutuhan akan tempat tinggal dan layanan pendukung meningkat. Ini menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Erlina dalam keterangannya saat menghadiri groundbreaking proyek pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium.

Dari sisi penerimaan negara, proyek hilirisasi aluminium disebut berpotensi meningkatkan pendapatan hingga 450% dengan kontribusi sekitar Rp6,6 triliun per tahun, dari penerimaan langsung maupun tidak langsung seperti pajak, royalti, dan dampak turunan ekonomi. Kajian LPEM FEB UI tahun 2023 juga menyebut hilirisasi aluminium berpotensi meningkatkan kesempatan kerja hingga 205% dengan total sekitar 65.472 lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Eko Hendro Purnomo menilai transformasi ekonomi melalui hilirisasi pertambangan telah memasuki fase implementasi strategis. Ia menyebut kehadiran SGAR bertujuan menutup celah struktural dalam industri aluminium nasional. “Selama ini Indonesia berada dalam paradoks, mengekspor bahan mentah bauksit tetapi masih bergantung pada impor alumina untuk kebutuhan smelter peleburan aluminium,” ujarnya.

Ketua Indonesia Mining and Energi Forum (IMEF) Singgih Widagdo juga menilai penguatan hilirisasi bauksit, termasuk pembangunan SGAR di Mempawah, sebagai langkah untuk mengurangi impor aluminium yang selama ini banyak masuk dari Tiongkok. Ia menyebut Indonesia sebelumnya mengalami defisit nilai ekspor bauksit terhadap nilai impor aluminium, sehingga program hilirisasi dinilai berada di jalur yang benar.

Dengan ekspansi pengolahan bauksit menjadi alumina serta rencana pembangunan smelter aluminium, pemerintah dan pelaku industri menempatkan proyek Mempawah sebagai bagian dari upaya membangun rantai nilai yang lebih utuh—dari tambang hingga produk industri—sekaligus memperkuat pasokan domestik yang selama ini masih defisit.