Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi melaporkan pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan I 2026 sebesar 4,33 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Capaian ini menandakan ekonomi daerah masih berada pada jalur positif di tengah ketidakpastian global. Namun, jika dibandingkan Triwulan IV 2025 yang tumbuh sekitar 4,77 persen, laju pertumbuhan tersebut menunjukkan perlambatan.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Jambi bahkan tercatat mengalami kontraksi 4,55 persen dibandingkan akhir 2025. Kondisi ini memunculkan paradoks: ekonomi tetap tumbuh secara statistik, tetapi pelemahan terasa dalam aktivitas ekonomi harian, terutama pada awal tahun.
Dibandingkan nasional, pertumbuhan ekonomi Jambi juga berada di bawah rata-rata. Pada Triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh sekitar 4,87 persen. Selisih ini mengindikasikan daya tahan ekonomi Jambi relatif lebih lemah, terutama karena struktur pertumbuhan daerah masih banyak bertumpu pada komoditas primer dan belanja pemerintah, sementara secara nasional pertumbuhan lebih ditopang industri pengolahan, digitalisasi ekonomi, investasi, dan konsumsi rumah tangga yang lebih kuat.
Perlambatan pada Triwulan I sebenarnya bukan fenomena baru. Pola ini kerap terjadi setelah aktivitas ekonomi meningkat pada akhir tahun, ketika realisasi belanja pemerintah biasanya dipercepat dan konsumsi masyarakat terdorong oleh momentum Natal dan Tahun Baru. Memasuki awal tahun, proyek pemerintah belum berjalan optimal, konsumsi kembali normal, dan pelaku usaha cenderung menunggu arah pasar.
Namun, persoalan yang disorot bukan semata perlambatan musiman, melainkan mengapa pola tersebut terus berulang dan memperlihatkan ketergantungan pada faktor jangka pendek. Ketika belanja pemerintah turun dan ekonomi langsung melemah, hal itu menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha belum cukup mandiri sebagai penopang pertumbuhan yang stabil sepanjang tahun.
Struktur ekonomi Jambi yang masih bergantung pada komoditas primer menjadi salah satu faktor utama. Batu bara, kelapa sawit, karet, dan komoditas perkebunan lainnya masih menjadi penopang penting. Ketergantungan ini membuat pertumbuhan ekonomi daerah sangat sensitif terhadap perubahan harga dan permintaan global.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga batu bara dunia disebut berada dalam tren relatif baik seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional, termasuk konflik Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, dan ketegangan perdagangan global. Secara teori, kondisi tersebut semestinya menguntungkan daerah penghasil batu bara. Namun, kenaikan harga batu bara dinilai belum cukup menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jambi pada awal 2026.
Data BPS menunjukkan ketika sektor pertambangan mengalami peningkatan, sejumlah sektor lain justru melemah. Sektor konstruksi tercatat mengalami kontraksi signifikan seiring melambatnya proyek pembangunan pemerintah. Sektor jasa pendidikan dan jasa lainnya juga menurun setelah berakhirnya aktivitas tinggi pada akhir tahun. Konsumsi pemerintah pun turun lebih dari 30 persen secara kuartalan, padahal belanja pemerintah selama ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah.
Kondisi tersebut menggambarkan lemahnya diversifikasi ekonomi Jambi. Ketika belanja pemerintah turun, sektor swasta belum mampu mengambil peran yang lebih besar. Di sisi lain, ketiadaan basis industri pengolahan yang kuat membuat perekonomian daerah cenderung fluktuatif dan mengikuti siklus komoditas.
Selain itu, kenaikan harga komoditas tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. Keuntungan sering kali lebih besar dinikmati perusahaan dan pemilik modal, sementara dampak pengganda bagi ekonomi rakyat dinilai terbatas karena komoditas masih dominan dijual sebagai bahan mentah. Batu bara dan sawit sebagian besar diekspor tanpa proses hilirisasi yang memadai untuk menciptakan nilai tambah lebih tinggi di daerah.
Tantangan lain datang dari persoalan infrastruktur dan efisiensi distribusi. Polemik jalan hauling batu bara yang berkepanjangan disebut memperlihatkan lemahnya sinkronisasi kebijakan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan publik. Kemacetan angkutan batu bara, kerusakan jalan, dan tingginya biaya logistik dinilai menurunkan efisiensi serta daya saing ekonomi daerah dalam jangka panjang.
Ketergantungan pada komoditas juga membuat ekonomi Jambi rentan terhadap perubahan geopolitik dan dinamika ekonomi global. Perlambatan ekonomi Tiongkok, perubahan kebijakan perdagangan internasional, serta ketidakpastian harga energi dunia dapat memengaruhi permintaan ekspor komoditas daerah. Dalam situasi seperti ini, ketahanan ekonomi daerah menjadi penting agar guncangan global tidak langsung menekan ekonomi masyarakat.
Untuk Triwulan II dan III 2026, peluang pemulihan dinilai masih terbuka. Belanja pemerintah biasanya meningkat setelah proses administrasi dan lelang proyek rampung pada awal tahun, sehingga aktivitas konstruksi dan pembangunan diperkirakan bergerak kembali pada pertengahan tahun. Stabilitas harga batu bara dan CPO dunia juga berpotensi menopang pertumbuhan ekspor. Meski demikian, prospek tersebut tetap perlu dicermati karena ketidakpastian global masih tinggi dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat. Jambi memiliki modal berupa sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, serta peluang pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi. Perlambatan pada awal 2026 dipandang sebagai momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi yang lebih produktif, berkeadilan, dan berkelanjutan.