BERITA TERKINI
Ekonomi Jambi Tumbuh 4,33 Persen pada Awal 2026, Namun Melambat dan Tertekan Secara Kuartalan

Ekonomi Jambi Tumbuh 4,33 Persen pada Awal 2026, Namun Melambat dan Tertekan Secara Kuartalan

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi melaporkan ekonomi Jambi pada Triwulan I 2026 tumbuh 4,33 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Angka ini menandakan perekonomian daerah masih berada di jalur positif di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, laju pertumbuhan tersebut melambat dibanding Triwulan IV 2025 yang sekitar 4,77 persen. Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Jambi bahkan tercatat mengalami kontraksi 4,55 persen dibanding akhir 2025. Kondisi ini memunculkan paradoks: secara statistik masih tumbuh, tetapi ritme ekonomi sehari-hari terasa melemah pada awal tahun.

Dibandingkan capaian nasional, posisi Jambi juga menunjukkan tantangan tersendiri. Pada Triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh sekitar 4,87 persen, sedikit lebih tinggi daripada Jambi. Perbedaan ini menggambarkan bahwa daya tahan ekonomi Jambi relatif lebih lemah dibanding rata-rata nasional, yang disebut mulai terdorong oleh industri pengolahan, digitalisasi ekonomi, investasi, serta konsumsi rumah tangga yang lebih kuat.

Di sisi lain, ekonomi Jambi dinilai masih bertumpu pada komoditas primer dan belanja pemerintah daerah. Pola perlambatan pada Triwulan I sebenarnya kerap berulang hampir setiap tahun, setelah aktivitas ekonomi tinggi pada Triwulan IV. Pada akhir tahun, realisasi APBD dan APBN biasanya dipercepat untuk mengejar target serapan, sementara konsumsi masyarakat meningkat seiring momen Natal dan Tahun Baru serta puncak aktivitas perdagangan.

Memasuki awal tahun, proyek pemerintah umumnya belum berjalan optimal, konsumsi kembali normal, dan dunia usaha menunggu arah pasar. Namun, perhatian utama bukan hanya perlambatan musiman, melainkan mengapa ketergantungan pada faktor jangka pendek terus berulang. Jika penurunan belanja pemerintah langsung diikuti pelemahan ekonomi, hal itu mengindikasikan aktivitas ekonomi masyarakat belum cukup mandiri dan sektor produktif belum menjadi penopang utama pertumbuhan.

Struktur ekonomi Jambi disebut masih sangat bergantung pada komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, karet, dan hasil perkebunan lainnya. Ketika harga komoditas naik, pertumbuhan daerah cepat terdorong, tetapi saat harga melemah atau permintaan global terganggu, tekanan terhadap ekonomi daerah ikut membesar. Struktur semacam ini membuat pertumbuhan menjadi sensitif terhadap faktor eksternal yang sulit dikendalikan pemerintah daerah.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga batu bara dunia disebut berada pada tren yang relatif baik seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional, termasuk konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, dan ketegangan perdagangan global. Secara teori, situasi tersebut berpotensi menguntungkan daerah penghasil batu bara seperti Jambi. Namun, kenaikan harga batu bara dinilai belum cukup menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jambi pada awal 2026.

Gambaran ini mengisyaratkan bahwa peningkatan di satu sektor belum mampu menutupi pelemahan di sektor lain. Data BPS menunjukkan sektor konstruksi mengalami kontraksi signifikan pada Triwulan I 2026 seiring melambatnya proyek pembangunan pemerintah. Sektor jasa pendidikan dan jasa lainnya juga menurun setelah berakhirnya aktivitas ekonomi akhir tahun. Konsumsi pemerintah bahkan turun lebih dari 30 persen secara kuartalan, padahal belanja pemerintah selama ini disebut menjadi motor penting penggerak ekonomi daerah.

Kondisi tersebut menyoroti lemahnya diversifikasi ekonomi Jambi dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih stabil. Ketika belanja pemerintah turun, aktivitas ekonomi melemah karena sektor swasta belum mengambil peran yang lebih besar. Pada saat yang sama, basis industri pengolahan dinilai belum cukup kuat untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan, sehingga pertumbuhan cenderung fluktuatif mengikuti siklus komoditas global.

Selain itu, kenaikan harga komoditas tidak selalu otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Dalam sejumlah kasus, keuntungan terbesar dinilai lebih banyak dinikmati perusahaan besar dan pemilik modal yang terhubung dengan perdagangan komoditas global. Dampak pengganda terhadap ekonomi rakyat dianggap terbatas karena aktivitas masih berorientasi pada penjualan bahan mentah, sementara batu bara dan sawit banyak diekspor tanpa proses hilirisasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi di daerah.

Jambi juga menghadapi persoalan infrastruktur dan efisiensi distribusi. Polemik jalan hauling batu bara yang berkepanjangan disebut memperlihatkan lemahnya sinkronisasi kebijakan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan publik. Kemacetan angkutan batu bara, kerusakan jalan, dan tingginya biaya logistik dinilai membuat aktivitas ekonomi tidak efisien, mengganggu masyarakat, serta mengurangi daya saing daerah dalam jangka panjang.

Di tengah itu, ketergantungan pada komoditas juga membuat ekonomi Jambi rentan terhadap perubahan geopolitik dan dinamika global. Perlambatan ekonomi Tiongkok, perubahan kebijakan perdagangan internasional, serta ketidakpastian harga energi dunia dapat memengaruhi permintaan ekspor komoditas daerah. Artinya, arah pertumbuhan tidak sepenuhnya ditentukan faktor lokal, melainkan juga oleh kondisi pasar global yang berada di luar kendali pemerintah daerah maupun pelaku ekonomi lokal.

Untuk Triwulan II dan III 2026, peluang pemulihan dinilai masih terbuka jika sejumlah faktor bergerak positif. Belanja pemerintah biasanya mulai meningkat setelah proses administrasi dan lelang proyek rampung pada awal tahun, sementara aktivitas konstruksi diperkirakan kembali bergerak pada pertengahan tahun. Stabilitas harga batu bara dan CPO dunia juga berpotensi menopang kinerja ekspor daerah, meski tetap harus dicermati karena ketidakpastian global masih tinggi.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dipahami sebagai angka triwulanan, melainkan terkait sejauh mana kesejahteraan dirasakan masyarakat. Jambi memiliki keunggulan berupa sumber daya alam, posisi geografis, potensi perkebunan dan pertambangan, serta peluang pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi industri. Perlambatan pada awal 2026 dipandang dapat menjadi momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi yang lebih produktif, berkeadilan, dan berkelanjutan.