BERITA TERKINI
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I 2026, Ditopang Konsumsi dan Manufaktur

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I 2026, Ditopang Konsumsi dan Manufaktur

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dibayangi pelemahan perdagangan internasional, fluktuasi harga komoditas, dan tensi geopolitik, ekonomi Indonesia mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV 2022, sekaligus melampaui pertumbuhan kuartal I 2025 yang tercatat 4,87 persen.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai angka tersebut merupakan sinyal daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global. Menurutnya, pertumbuhan itu tidak terlepas dari peran konsumsi domestik, dorongan musiman Ramadan dan Idul Fitri, serta membaiknya ekspor manufaktur yang masih menjadi penopang penting perekonomian.

“Ini menunjukkan ekonomi Indonesia relatif tahan menghadapi tekanan global, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga ketidakpastian perdagangan internasional. Konsumsi masyarakat tetap bergerak dan industri manufaktur masih mampu menjaga ekspor,” ujarnya.

Noviardi juga menilai sektor industri pengolahan tetap menjadi mesin utama pertumbuhan dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menyoroti penguatan aktivitas produksi pada sejumlah subsektor, seperti makanan dan minuman, kimia-farmasi, serta logam dan elektronik.

Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan capaian pertumbuhan tahunan tersebut. Pasalnya, secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq) ekonomi justru mengalami kontraksi tipis sebesar 0,77 persen, yang dinilai mencerminkan masih adanya persoalan struktural dalam fondasi pertumbuhan.

“Secara tahunan memang tumbuh tinggi, tetapi secara kuartalan justru minus. Ini menandakan ekonomi kita masih sangat dipengaruhi faktor musiman dan belum sepenuhnya ditopang produktivitas jangka panjang,” katanya.

Ia menyoroti ketergantungan terhadap sektor berbasis komoditas dan pertanian musiman yang masih cukup besar. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat laju pertumbuhan lebih mudah melambat ketika terjadi tekanan eksternal atau penurunan harga komoditas global.

Karena itu, Noviardi mendorong percepatan transformasi ekonomi ke sektor bernilai tambah tinggi dan berbasis teknologi. Ia menyebut reformasi birokrasi, percepatan investasi infrastruktur, serta penciptaan lapangan kerja produktif sebagai agenda yang perlu diprioritaskan agar pertumbuhan lebih berkelanjutan dan manfaatnya dirasakan lebih luas.

“Pertumbuhan saya pikir sangat baik, namun tantangan terbesar pemerintah sekarang adalah bagaimana mengubah pertumbuhan itu menjadi kesejahteraan riil, terutama bagi masyarakat kelas menengah bawah yang masih menghadapi tekanan daya beli,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan konsumsi musiman dan ekspor komoditas. “Kalau tidak ada diversifikasi ekonomi yang serius dan reformasi struktural yang konsisten, maka target besar itu berisiko menjadi sekadar optimisme politik tanpa fondasi kuat,” pungkasnya.