Data ekonomi terbaru menunjukkan perekonomian dunia pada 2025 kian bergerak dalam dua kecepatan. Sejumlah pasar Asia tetap menjadi penggerak utama, menyumbang sekitar 60% pertumbuhan global, sementara banyak negara industri mapan di Barat menghadapi perlambatan, ketidakpastian, dan tantangan struktural.
Dalam perbandingan kawasan, proyeksi pertumbuhan menempatkan Asia pada kisaran 4,5% dan Tiongkok 4,8–5,0%. Sementara itu, Amerika Serikat diperkirakan tumbuh 1,8–1,9%, Uni Eropa 1,4%, dan Jerman hanya 0,1–0,2%—membuat Jerman berada di posisi terbawah di antara negara-negara G20.
Amerika Serikat: bisnis optimistis, konsumen pesimistis
Prospek ekonomi AS memperlihatkan kontras tajam antara keyakinan pelaku usaha dan persepsi rumah tangga. Pada November 2025, sekitar 65% pemimpin bisnis menyatakan pandangan positif terhadap ekonomi nasional untuk 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, sentimen konsumen melemah: Indeks Sentimen Konsumen Michigan turun ke 51,0 poin pada November, mendekati titik terendah historis 50 poin pada Juni 2022.
Pertumbuhan AS diproyeksikan melambat dari 2,8% pada 2024 menjadi 1,8–1,9% pada 2025. Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan dan menargetkan suku bunga netral 3,25%, tetapi inflasi masih berada di atas target, sekitar 2,7%, sehingga menekan daya beli. Penutupan pemerintah yang berlangsung lebih dari sebulan turut menambah ketidakpastian. Sebanyak 61% warga AS menilai biaya hidup bergerak ke arah yang salah, dan 59% menyatakan hal serupa terhadap inflasi.
Di sisi lain, kalangan eksekutif menunjukkan optimisme lebih tinggi. Disebutkan 87% perusahaan Jerman yang beroperasi di AS memperkirakan kinerja bisnis stabil atau membaik dalam 12 bulan ke depan; 70% berencana mempertahankan atau meningkatkan investasi, dan 81% memperkirakan lapangan kerja stabil atau meningkat. Pada saat yang sama, pandangan pelaku bisnis AS terhadap ekonomi global melemah: hanya 29% yang optimistis terhadap kondisi global, jauh di bawah optimisme terhadap ekonomi domestik.
Dari sisi kebijakan perdagangan, tarif menjadi sumber perdebatan. Sebanyak 57% warga AS menentang tarif tetap 10%. Secara global, persepsi terhadap pengaruh AS juga menurun, dan untuk pertama kalinya lebih banyak responden memandang Tiongkok berpengaruh lebih positif daripada AS (49% berbanding 46%).
Uni Eropa: pemulihan moderat, investasi masih lemah
Ekonomi Uni Eropa mencatat kinerja yang melampaui ekspektasi pada tiga kuartal pertama 2025, terutama dipengaruhi percepatan ekspor untuk mengantisipasi kenaikan tarif. PDB riil Uni Eropa diproyeksikan tumbuh 1,4% pada 2025 dan 2026, lalu 1,5% pada 2027.
Indikator Sentimen Ekonomi (ESI) meningkat pada Oktober 2025, menjadi 96,7 di Uni Eropa dan 96,8 di zona euro. Namun, penilaian pelaku usaha masih terbagi: 26% perusahaan menyebut situasi bisnis “baik”, sementara 25% menilainya “buruk”. Inflasi di zona euro diperkirakan turun ke 2,1% pada 2025 dan berada di sekitar 2% pada tahun-tahun berikutnya. Tingkat pengangguran diperkirakan stabil di 5,9%.
Investasi menjadi titik lemah. Pertumbuhan investasi diperkirakan hanya 0,6% pada 2025, turun dari proyeksi sebelumnya. Ketidakpastian kebijakan perdagangan dan ketegangan geopolitik disebut menahan keputusan investasi. Di tengah tekanan ini, 87% CEO Eropa merencanakan merger atau akuisisi dalam satu hingga dua tahun, mengindikasikan upaya aktif mencari sumber pertumbuhan.
Uni Eropa juga menilai meningkatnya kerentanan terhadap kebijakan perdagangan AS dan persaingan Tiongkok. Tiga dari empat perusahaan melaporkan dampak negatif tarif yang moderat hingga signifikan terhadap bisnis, sementara impor yang lebih murah dari Tiongkok dipandang sebagai ancaman bagi pasar ekspor Eropa.
Jerman: stagnasi dan krisis struktural
Jerman menghadapi tekanan paling berat di antara ekonomi maju yang dibandingkan. Setelah dua tahun resesi (-0,9% pada 2023 dan -0,5% pada 2024), pertumbuhan 2025 diperkirakan hanya 0,1–0,2%. Komisi Uni Eropa memproyeksikan pertumbuhan 0,2% pada 2025 dan 1,2% pada 2026.
Sentimen bisnis disebut suram. Hanya sekitar satu dari delapan perusahaan yang menilai prospek “cukup baik”, sedangkan satu dari tiga mengkhawatirkan perkembangan “cukup buruk”. Sebanyak 31 dari 49 asosiasi bisnis menilai situasi saat ini lebih buruk dibanding tahun lalu. Untuk pertama kalinya, lebih banyak perusahaan yang berencana memangkas tenaga kerja (28%) dibanding yang berencana menambah (19%).
Sejumlah masalah dinilai bersifat struktural. Di sektor industri, terjadi penurunan kapasitas produksi sebesar 210 miliar euro sejak 2020. Harga produsen untuk produk industri naik 40% sejak 2020, sementara harga ekspor hanya naik 20%, yang disebut memperlebar kerugian daya saing. Dari sisi investasi, empat dari sepuluh perusahaan berencana mengurangi belanja modal pada 2025. Investasi konstruksi turun hampir 4% pada 2024 dan diperkirakan turun lagi 2% pada 2025. Biaya energi, tenaga kerja, dan birokrasi, serta ketidakpastian politik akibat kekosongan pemerintahan dan pemilu mendatang, turut disebut menghambat investasi.
Tingkat pengangguran Jerman diproyeksikan naik menjadi 6,3% pada 2025 dengan hampir 3 juta penganggur. Konsumsi swasta diperkirakan tetap rendah meski daya beli meningkat, karena rumah tangga cenderung berhati-hati.
Dari sisi risiko eksternal, kebijakan tarif AS berpotensi mengurangi PDB Jerman sebesar 0,6% dalam skenario dasar dan hingga 1,2% dalam skenario negatif. Ekspektasi ekspor 2025 disebut berada pada titik terendah sepanjang sejarah, terutama di industri otomotif dan logam.
Asia: pertumbuhan tinggi, namun rentan konflik dagang
Asia diproyeksikan tetap menjadi kawasan paling dinamis pada 2025 dengan pertumbuhan 4,5% dan kontribusi sekitar 60% terhadap pertumbuhan global. Pangsa Asia dalam ekonomi global diperkirakan meningkat dari 36,1% (2024) menjadi 36,4% (2025), dan setelah penyesuaian paritas daya beli dari 48,1% menjadi 48,6%.
Sejumlah negara mencatat proyeksi pertumbuhan tinggi: India 6,6% pada 2025 dan 6,2% pada 2026; Vietnam 6,6%; Singapura sekitar 4,0% pada 2025 setelah pertumbuhan kuartal III 4,2%; Indonesia 4,8–5,1%; serta Filipina 5,3–6,0%. Ketahanan kawasan didukung percepatan ekspor menjelang kenaikan tarif, investasi berbasis AI terutama di Korea Selatan dan Jepang, reorientasi rantai pasok, serta pelonggaran kebijakan moneter di banyak negara.
Meski demikian, kepercayaan bisnis dan konsumen belum pulih ke tingkat pra-COVID. IMF juga memperingatkan prospek tetap rentan karena situasi tarif dapat berkembang dan memburuk. Ketegangan perdagangan menurunkan proyeksi pertumbuhan ASEAN-5 dari 4,6% menjadi 4,1% pada 2025, dengan negara bergantung perdagangan seperti Vietnam dan Kamboja disebut paling terdampak.
Di tengah tekanan, perdagangan intra-Asia tumbuh seiring pergeseran produksi dan pengadaan di dalam kawasan. Tren ini memperkuat integrasi regional dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar Barat.
Tiongkok: perlambatan dengan fokus transformasi
Perekonomian Tiongkok menunjukkan sinyal campuran pada November 2025. Pertumbuhan PDB kuartal III 2025 tercatat 4,8% (year-on-year), yang disebut menjadi laju terlemah dalam setahun. Untuk keseluruhan 2025, pertumbuhan diperkirakan 4,8–5,0% dan target resmi “sekitar 5%” masih dinilai dapat dicapai.
Sejumlah tantangan struktural membebani, terutama krisis properti. Investasi properti turun 13,9% dalam tiga kuartal pertama dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Harga rumah menurun secara nasional, turun 0,8% di kota-kota besar dan 3,4% di kota-kota menengah. Kontribusi sektor properti disebut sekitar 15% dari PDB, turun dari 30% pada 2015. Selain itu, keyakinan konsumen masih mendekati level terendah historis dan rumah tangga menabung pada tingkat tertinggi, sementara investasi swasta melemah karena margin keuntungan rendah dan tekanan persaingan.
Namun, terdapat proyeksi yang lebih optimistis. Goldman Sachs merevisi perkiraan pertumbuhan menjadi 5,0% untuk 2025, 4,8% untuk 2026, dan 4,7% untuk 2027, dengan asumsi pertumbuhan ekspor tahunan 5–6% didorong peningkatan pangsa pasar global barang Tiongkok.
Dari sisi eksternal, Tiongkok menghadapi lingkungan perdagangan yang lebih tidak bersahabat. Tarif AS disebut berdampak signifikan terhadap ekspor, dan PMI manufaktur turun ke 49,0 pada Oktober, di bawah ambang ekspansi. Sebagai respons, Tiongkok mengintensifkan perdagangan regional, termasuk peningkatan pertukaran dengan ASEAN, serta mengalihkan ekspor ke pasar selain AS.
Secara strategi, kepemimpinan Tiongkok menekankan transformasi struktural ketimbang stimulus jangka pendek. Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) menyoroti modernisasi industri tradisional seperti logam, kimia, dan tekstil; pertumbuhan energi baru, kendaraan listrik, dan semikonduktor; serta dorongan kemandirian teknologi dan ilmiah.
Garis besar perbandingan: pertumbuhan timpang dan proteksionisme
Perbandingan keseluruhan pada akhir 2025 memperlihatkan kesenjangan yang melebar antara Asia yang tumbuh cepat dan Barat yang lebih stagnan. Kekhawatiran utama berbeda di tiap kawasan: inflasi dan biaya hidup mendominasi kekhawatiran konsumen AS; Eropa, khususnya Jerman, bergulat dengan daya saing, biaya energi, dan lemahnya investasi; Asia menavigasi konflik dagang dengan memperdalam integrasi regional; sementara Tiongkok melanjutkan transformasi struktural di tengah tekanan eksternal.
Kebijakan tarif AS muncul sebagai faktor yang dinilai mendestabilisasi dan berdampak besar pada ekonomi berorientasi ekspor seperti Jerman dan Tiongkok. Dengan latar meningkatnya proteksionisme dan ketegangan geopolitik, peta kekuatan ekonomi global menjelang 2025 menunjukkan pergeseran yang semakin jelas, dengan Asia tetap menjadi pusat pertumbuhan, sementara sejumlah ekonomi maju menghadapi pekerjaan rumah struktural yang kian mendesak.

