Ekonom Universitas Airlangga Wisnu Wibowo menilai konflik geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak global, yang kemudian mendorong penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia secara bertahap.
“Kenaikan harga BBM non-subsidi adalah konsekuensi logis karena mengikuti pasar internasional,” kata Wisnu pada Senin, 30 Maret 2026. Menurutnya, mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi memang berbasis fluktuasi harga global.
Dalam periode Februari hingga Maret 2026, sejumlah BBM non-subsidi mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Turbo menjadi Rp13.100 per liter. Pertamax Green juga naik dari Rp12.450 menjadi Rp12.900 per liter. Adapun Dexlite naik menjadi Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp14.500 per liter.
Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan harga. Pertalite tetap di Rp10.000 per liter dan Solar subsidi bertahan di Rp6.800 per liter.
Wisnu menilai kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut masih dalam kategori moderat, yakni sekitar lima hingga sepuluh persen. Ia menyebut besaran itu masih berada dalam batas wajar.
Ia menjelaskan, harga BBM non-subsidi mengacu pada indikator global seperti MOPS dan Argus. Penyesuaian juga mengikuti regulasi Kementerian ESDM serta dipengaruhi faktor kurs dan pajak. “Variabel harga acuan dan kurs sangat dinamis, sehingga wajar terjadi penyesuaian harga,” ujarnya. Ia menambahkan, badan usaha memiliki kewenangan untuk menentukan harga eceran.
Wisnu juga menyoroti tekanan terhadap fiskal seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel. Ia menyebut setiap kenaikan satu dolar berpotensi menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun.
Meski demikian, ia memperkirakan pemerintah tidak akan terburu-buru menaikkan harga BBM bersubsidi. Menurutnya, penyesuaian harga bersubsidi akan menjadi opsi terakhir apabila tekanan fiskal semakin berat.
Di tingkat regional, beberapa negara Asia Tenggara dilaporkan telah menaikkan harga BBM sejak Februari 2026. Thailand dan Vietnam mengalami kenaikan lebih tajam karena menerapkan mekanisme pasar penuh. Malaysia dinilai relatif mampu menahan harga berkat subsidi besar dari pemerintah, sementara Singapura mencatat harga tertinggi karena adanya pajak energi dan tanpa subsidi.
Perbandingan tersebut, menurut Wisnu, menunjukkan posisi Indonesia masih relatif stabil. Ia menilai kenaikan yang moderat serta keberadaan subsidi masih menjadi bantalan bagi daya beli masyarakat.
Berikut komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026:
Indonesia (Pertamina)
RON 92: Rp12.300
RON 95: Rp12.900
RON 98: Rp13.100
Solar subsidi: Rp6.800
Dexlite (non-subsidi): Rp14.200
Pertamina Dex: Rp14.500
Malaysia
RON 95: ± Rp8.500 – Rp11.400
RON 97: ± Rp13.000
Solar (diesel): ± Rp10.000 – Rp11.500
Singapura
RON 95: ± Rp45.000
RON 98: Rp52.000 – Rp55.000
Solar (diesel): ± Rp45.000 – Rp47.000
Thailand
RON 92: ± Rp23.000
RON 95: ± Rp23.000 – Rp24.000
Solar (diesel): ± Rp17.000
Vietnam
RON 92: ± Rp22.000 – Rp25.000
RON 95: ± Rp25.000+
Solar (diesel): ± Rp20.000 – Rp21.000+

