BERITA TERKINI
Dua Tanker Pertamina Sempat Tertahan di Selat Hormuz, Analisis ISEAI Soroti Peran Diplomasi Malaysia

Dua Tanker Pertamina Sempat Tertahan di Selat Hormuz, Analisis ISEAI Soroti Peran Diplomasi Malaysia

Jakarta — Dua kapal tanker raksasa milik Pertamina, VLCC Pertamina Pride dan PIS Gamsunoro, sempat tertahan di Selat Hormuz oleh otoritas Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi nasional, sebelum akhirnya terdapat sinyal positif yang membuka kembali jalur bagi kedua kapal tersebut.

Peneliti senior Indonesian Strategic Economic Analysis Institute (ISEAI), Ronny P. Sasmita, dalam laporan yang dirilis Minggu (29/3/2026), menilai insiden itu sebagai “pesan diplomatik” yang terukur dari Iran. Ia menyebut, meski Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, Teheran menerapkan kategorisasi ketat antara negara yang dianggap “bersahabat” dan “bermusuhan” setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Ronny, perbedaan perlakuan terlihat ketika Malaysia dan Thailand disebut lebih cepat memperoleh izin melintas, sementara Indonesia sempat mengalami penahanan. Ronny menilai hal itu merupakan akumulasi kekecewaan Iran terhadap sejumlah kebijakan Jakarta.

Dalam laporannya, Ronny merinci beberapa faktor yang disebut menjadi latar ketegangan. Pertama, sengketa MT Arman 114, terkait rencana lelang kapal tanker Iran oleh Indonesia yang dipandang Teheran sebagai perampasan kedaulatan di masa perang. Kedua, pembatalan mendadak partisipasi angkatan laut Iran dalam Latihan Komodo (MNEK) 2025 di Bali yang disebut terjadi karena tekanan Amerika Serikat. Ketiga, langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald Trump yang dinilai menimbulkan persepsi pergeseran posisi Indonesia ke orbit Washington.

Ronny juga menyoroti peran Malaysia sebagai “jembatan” dalam meredakan situasi. Ia mencatat titik terang muncul setelah pertemuan selama tiga jam antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Istana Merdeka pada 27 Maret. Sehari setelahnya, pada 28 Maret 2026, jalur bagi tanker Indonesia disebut kembali terbuka, yang dalam analisis Ronny merupakan hasil “diplomasi pintu belakang” yang difasilitasi Anwar.

Menurut Ronny, posisi Malaysia yang lebih vokal terhadap intervensi Barat disebut memberi “kredit diplomatik” lebih tinggi di mata Teheran. Dalam kerangka itu, Indonesia dinilai memerlukan bantuan jalur komunikasi tersebut untuk memulihkan kepercayaan Iran.

Laporan tersebut juga membandingkan “diplomasi formal” pemerintah dengan “diplomasi bayangan” yang dikaitkan dengan tokoh bangsa seperti Megawati Soekarnoputri. Ronny menyebut, ketika pemerintah dinilai terlambat merespons transisi kepemimpinan di Iran, Megawati disebut mengirimkan ucapan selamat kepada pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, dengan membawa narasi historis “Semangat Bandung 1955”.

Penahanan dua aset strategis itu sempat memperkuat kekhawatiran pasokan energi, terutama ketika harga minyak Brent dilaporkan melonjak hingga menembus US$ 100 per barel. Ronny menyimpulkan krisis Selat Hormuz 2026 menunjukkan kerentanan Indonesia sebagai negara importir minyak yang bergantung pada dinamika geoekonomi. Ketidakpastian tersebut, menurutnya, berpotensi menekan stabilitas APBN dan beban subsidi energi nasional.