Perang di Timur Tengah disebut turut berdampak pada kenaikan harga plastik di dalam negeri. Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengeluhkan harga plastik kemasan yang melonjak, terutama bagi pedagang makanan dan minuman.
Ketua Umum Asosiasi Pelaku Kaki Lima (APKLI) Ali Mahsum Atmo mengatakan lonjakan harga plastik membuat pelaku UMKM semakin kesulitan. Ia mencontohkan harga gelas plastik di Jambi yang naik dari Rp 20 ribu menjadi Rp 43 ribu untuk isi 50 gelas. “Di berbagai wilayah, yang pertama terdampak dan terberat adalah pelaku kaki lima, terutama terkait makanan dan minuman,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menurut Ali, dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan UMKM lain seperti warung kelontong, karena banyak transaksi pembelian membutuhkan plastik. Meski demikian, ia menyebut pelaku usaha kaki lima dan UMKM terbiasa menghadapi situasi sulit. “Namun saya bersyukur, kawan-kawan PKL UMKM ini tahan banting dan sudah sering menghadapi dan berada dalam situasi sulit,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komisi VII DPR Saleh Partaonan Daulay menilai sumber plastik di Indonesia berasal dari dua jalur, yakni daur ulang (recycling) dan impor. Dalam situasi saat ini, ia menilai beban plastik daur ulang tidak seberat plastik yang bersumber dari impor.
“Masalahnya kalau bahan bakunya impor, itu pasti akan berurusan dengan situasi geopolitik, keamanan, dan ketertiban di dunia internasional,” kata Saleh, Jumat (10/4/2026).
Karena itu, Saleh mengusulkan pemanfaatan plastik daur ulang dilakukan secara maksimal. Ia menilai plastik yang sebelumnya dianggap beban karena sampahnya sulit terurai, kini justru memiliki nilai. Saleh mendorong agar proses daur ulang dilakukan dengan baik dan hasilnya dapat disalurkan kepada perusahaan serta industri yang membutuhkan.