Di tengah ketidakpastian ekonomi global, transformasi menuju industri hijau dinilai bukan lagi sekadar pilihan, melainkan langkah strategis agar industri nasional mampu bertahan. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mengingatkan, industri yang tidak segera beradaptasi berisiko kalah bersaing hingga tergilas oleh kombinasi tekanan krisis global.
Menurut Novita, Indonesia saat ini menghadapi tekanan ekonomi global yang kompleks, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, hingga ketegangan geopolitik seperti persaingan Amerika Serikat dan China serta konflik di Ukraina. Situasi tersebut turut mengacaukan rantai pasok dunia dan berdampak luas, tidak hanya pada industri besar, tetapi juga merembes ke rumah tangga dan petani melalui kenaikan biaya hidup dan biaya produksi.
Dalam kunjungan ke PT Japfa Comfeed Indonesia di Lampung, Novita mengapresiasi langkah awal perusahaan dalam memanfaatkan energi surya. Namun, ia menegaskan bahwa penerapan industri hijau tidak boleh berhenti pada aspek yang bersifat simbolik. Ia menilai, konsep industri hijau harus mencakup pengelolaan limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, serta menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan.
Novita juga mendorong agar Japfa dapat menjadi proyek percontohan yang menerapkan prinsip keberlanjutan dari hulu ke hilir. Baginya, transformasi hijau perlu dilakukan secara menyeluruh agar tidak sekadar menjadi pencitraan, melainkan benar-benar memperkuat daya tahan industri menghadapi guncangan global.
Selain aspek lingkungan dan efisiensi energi, Novita menekankan pentingnya dimensi keadilan ekonomi dalam keberhasilan industri hijau. Ia mendorong industri besar untuk membuka ruang kolaborasi yang nyata dengan UMKM dan usaha mikro, sejalan dengan semangat kemandirian pangan, agar manfaat transformasi dapat dirasakan hingga lapisan ekonomi terbawah. Tanpa unsur keadilan tersebut, konsep hijau dinilai berisiko menjadi jargon semata.
Komisi VII DPR RI, kata Novita, terus mengawal implementasi transformasi industri hijau. Ia menilai, hanya melalui pendekatan yang memadukan ketangguhan lingkungan, efisiensi ekonomi, dan keadilan sosial, industri nasional dapat bertahan sekaligus meningkatkan daya saing di tengah krisis global.

