Ketidakpastian ekonomi global dinilai dapat memicu kekhawatiran berlebih di tengah masyarakat. Anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris, mengingatkan agar masyarakat menghentikan aksi borong barang atau panic buying karena berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.
Menurut Andi, pola konsumsi yang tidak wajar dapat mengganggu stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan yang sensitif terhadap perubahan permintaan. Ia menilai kecenderungan membeli barang secara berlebihan, terutama menjelang hari besar, berisiko memperbesar tekanan harga di pasar.
“Panic buying sebaiknya dihindari karena justru dapat mendorong kenaikan harga di pasar,” ujar Andi, Selasa (10/3).
Dalam pemantauan langsung saat masa reses, Andi menyebut telah menemukan tren kenaikan harga pada sejumlah komoditas dapur. Meski belum tergolong ekstrem, ia menilai dampaknya mulai dirasakan, khususnya oleh konsumen dari kelompok bawah.
Komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit disebut mengalami kenaikan harga. Andi menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah agar distribusi barang dapat dikelola dengan baik sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Dari hasil peninjauan di pasar saat reses, beberapa komoditas seperti bawang dan cabai memang mengalami kenaikan. Meski tidak terlalu tajam, kondisi ini tetap memengaruhi daya beli masyarakat,” tambahnya.
Selain itu, Andi mendorong pemerintah untuk memantau indikator inflasi secara berkala sebagai respons atas tekanan ekonomi global. Ia juga meminta agar skala prioritas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dievaluasi apabila tekanan ekonomi terus memburuk.
Pemerintah, kata Andi, perlu lebih selektif dalam menjalankan program kerja. Ia menekankan agar fokus anggaran negara diarahkan pada perlindungan jaring pengaman sosial serta menjaga stabilitas harga pangan nasional.

