Djibouti, negara kecil di Afrika Timur dengan luas wilayah yang tidak sebesar banyak provinsi di Indonesia, menjadi lokasi berkumpulnya pangkalan militer dari sejumlah kekuatan besar dunia, termasuk Amerika Serikat dan China. Konsentrasi kehadiran militer asing di negara ini dipengaruhi kombinasi faktor geografis, keamanan, serta strategi ekonomi yang membuat Djibouti bernilai tinggi dalam dinamika geopolitik global.
Posisi Djibouti dinilai strategis karena berada dekat Selat Bab-el-Mandeb, koridor sempit dengan lebar sekitar 30 kilometer di titik tersempitnya dan termasuk salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez, jalur penting perdagangan antara Asia dan Eropa.
Di jalur tersebut, sekitar 12% perdagangan maritim global, termasuk minyak dan barang manufaktur, melintas setiap hari. Karena itu, negara yang memiliki akses atau kehadiran militer di kawasan ini dapat memantau, melindungi, dan berpotensi memengaruhi arus logistik dunia.
Selain faktor ekonomi, Djibouti berada di lingkungan geopolitik yang dinilai rawan. Negara ini berbatasan atau berdekatan dengan wilayah konflik seperti Yaman dan Somalia. Yaman telah lama dilanda perang, sementara Somalia dikenal sebagai lokasi aktivitas kelompok ekstremis dan pembajakan laut.
Kondisi ini membuat Djibouti dipandang ideal sebagai titik operasi bagi negara-negara besar untuk menjalankan misi militer, mulai dari upaya anti-terorisme, pengamanan jalur laut, hingga pengumpulan intelijen. Sejak serangan 11 September 2001, kehadiran militer asing di Djibouti dilaporkan meningkat signifikan, terutama oleh Amerika Serikat yang menjadikannya basis utama di kawasan Afrika Timur.
Di sisi lain, Djibouti tidak dikenal memiliki sumber daya alam melimpah. Pemerintah setempat mengembangkan strategi ekonomi dengan menyewakan wilayahnya untuk pangkalan militer asing. Pendapatan dari sewa pangkalan disebut mencapai ratusan juta dolar per tahun dan menjadi salah satu sumber pemasukan utama negara.
Pemerintah Djibouti bahkan menyebut “geography is our oil” untuk menegaskan bahwa lokasi geografis merupakan aset ekonomi utama. Dalam konteks kawasan yang penuh konflik, Djibouti juga dinilai relatif stabil secara politik, faktor yang turut menarik negara-negara besar karena menjanjikan keberlangsungan operasi jangka panjang.