BERITA TERKINI
Diplomat AS Tinggalkan Konsulat Chengdu Usai Batas Waktu, Ketegangan Washington-Beijing Meningkat

Diplomat AS Tinggalkan Konsulat Chengdu Usai Batas Waktu, Ketegangan Washington-Beijing Meningkat

Para diplomat Amerika Serikat meninggalkan Konsulat Jenderal AS di Chengdu, China, setelah batas waktu 72 jam yang ditetapkan otoritas China berakhir. Penutupan konsulat ini terjadi di tengah hubungan kedua negara yang kian memanas.

China memerintahkan penutupan konsulat AS di Chengdu sebagai respons atas langkah Washington yang lebih dulu menutup konsulat China di Houston, Texas, pada pekan sebelumnya. Pemerintah AS menyebut penutupan konsulat China itu terkait dugaan aktivitas memata-matai dan pencurian kekayaan intelektual.

Menjelang tenggat pada Senin (27/07), staf konsulat AS terlihat meninggalkan gedung. Plakat nama konsulat dicabut dan bendera Amerika Serikat diturunkan. Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa setelah batas waktu berakhir, staf China memasuki gedung dan “mengambil alih”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan konsulat Chengdu telah menjadi penghubung hubungan AS dengan masyarakat di China Barat, termasuk Tibet, selama 35 tahun. AS menyatakan kecewa atas keputusan Partai Komunis China dan menyebut akan melanjutkan upaya menjangkau masyarakat di kawasan tersebut melalui pos-pos lain di China.

Di luar kompleks konsulat, sejumlah warga setempat berkumpul, melambaikan bendera China, serta mengambil foto, termasuk swafoto, saat penutupan berlangsung.

Beijing menyebut penutupan konsulat AS di Chengdu sebagai tanggapan yang sah dan perlu atas keputusan AS menutup konsulat China di Houston. Di sisi lain, ketegangan turut dipicu oleh langkah penegakan hukum di AS terhadap sejumlah warga negara China.

Departemen Kehakiman AS sebelumnya mendakwa empat warga negara China—Wang Xin, Song Chen, Zhao Kaikai, dan Tang Juan—atas tuduhan kecurangan visa dan berbohong terkait afiliasi mereka dengan militer China, People’s Liberation Army (PLA). Tiga orang dilaporkan telah ditahan, sementara FBI berupaya menangkap satu orang lainnya yang disebut-sebut berlindung di konsulat China di San Francisco.

Jaksa penuntut menyatakan kasus ini merupakan bagian dari dugaan rencana China mengirim ilmuwan militer ke AS dengan menyembunyikan keterkaitan mereka dengan PLA. John C Demers dari Departemen Kehakiman AS, dalam siaran pers, menyebut hal itu sebagai bentuk upaya memanfaatkan keterbukaan masyarakat AS dan mengeksploitasi institusi akademik.

Dalam rincian dakwaan, Wang Xin disebut ditangkap pada 7 Juni setelah diinterogasi di Bandara Internasional Los Angeles dan kemudian mengungkapkan bahwa ia masih menjadi anggota PLA. Song Chen dan Zhao Kaikai ditangkap pada 18 Juli. Sementara Tang Juan diduga berada di konsulat China di San Francisco. Dokumen pengadilan federal di San Francisco menyebut Tang adalah periset biologi di University of California, Davis, dan diduga meninggalkan rumahnya menuju konsulat setelah penggeledahan dan wawancara pada 20 Juni 2020.

China menolak tuduhan-tuduhan tersebut. Pada Kamis (23/07), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menyebut tuduhan AS sebagai “fitnah jahat” dan mengatakan China akan mengambil tanggapan yang diperlukan untuk menjaga hak-haknya.

Di tengah eskalasi, Presiden AS Donald Trump beberapa kali berseteru dengan Beijing dalam beberapa bulan terakhir terkait perdagangan, pandemi virus corona, dan penerapan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong. Setelah pengumuman dakwaan, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga melontarkan kritik keras terhadap China dalam pidato di Perpustakaan Kepresidenan Richard Nixon di California.

Ketegangan diplomatik ini semakin menonjol setelah Washington memerintahkan penutupan konsulat China di Houston paling lambat Jumat (24/07), yang oleh Beijing disebut sebagai “provokasi politik”. Dalam pernyataan terpisah, otoritas AS menuding adanya kegiatan mata-mata ilegal dan operasi pengaruh. China menyatakan alasan penutupan konsulatnya “mengada-ada” dan memperingatkan akan ada balasan yang tegas.

Dalam perkembangan lain, Departemen Kehakiman AS juga menuding China mensponsori peretas yang menargetkan laboratorium pengembangan vaksin Covid-19. Dua warga negara China didakwa terkait tuduhan memata-matai perusahaan riset AS dan disebut dibantu agen pemerintah China.

Rangkaian peristiwa ini menandai memburuknya hubungan AS-China, dengan aksi saling tutup konsulat menjadi salah satu simbol paling nyata dari meningkatnya ketegangan diplomatik kedua negara.