Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekan Iran menuai kritik karena dinilai memperlihatkan diplomasi yang lemah, berbiaya tinggi, dan semakin sulit dipercaya, baik oleh pihak luar maupun di dalam negeri AS. Penilaian itu menguat setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu gejolak ekonomi global dan menambah tekanan politik terhadap Trump.
Dalam buku The Art of the Deal (1987) yang dikutip The Economist, Trump pernah menulis bahwa hal terburuk dalam negosiasi adalah terlihat terlalu ingin mencapai kesepakatan karena lawan akan membaca kelemahan dan menghabiskan posisi tawar. Namun, dalam perkembangan terbaru terkait Iran, Trump justru dipandang menunjukkan tanda-tanda ingin segera mencapai kesepakatan di tengah lonjakan harga minyak, pelemahan pasar saham, dan penolakan publik terhadap konflik yang berlangsung.
Gelombang protes di AS disebut terjadi pada 28 Maret, ketika warga turun ke jalan di ribuan kota. Mereka memprotes gaya kepemimpinan Trump yang dianggap seperti raja, sekaligus menyoroti kenaikan harga bensin. Dua hari kemudian, pada 30 Maret, Trump mengatakan telah membuat “kemajuan besar” menuju kesepakatan dengan rezim baru Iran yang ia sebut lebih masuk akal, sebuah pernyataan yang dipandang sebagai upaya menenangkan pasar.
Di saat yang sama, Trump juga melontarkan ancaman bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Amerika akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, fasilitas minyak, dan kemungkinan instalasi desalinasi air. Pola ancaman yang kemudian ditarik atau diubah waktu kemunculannya turut menjadi sorotan. Dalam beberapa kesempatan, Trump disebut mengeluarkan pernyataan keras saat pasar tutup, lalu menariknya kembali menjelang pasar dibuka. Ia juga menunda tenggat bagi Iran untuk menerima syarat-syaratnya—dari 48 jam menjadi satu minggu, lalu lebih dari dua minggu.
Iran dinilai memanfaatkan situasi ini dengan menekan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Iran hanya mengizinkan sedikit kapal tanker melintas dan, dalam beberapa laporan, mengenakan biaya sekitar US$2 juta per kapal. Pada 27 Maret, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengeluhkan bahwa para pemimpin Iran “mungkin memutuskan ingin membuat sistem tol di Selat”.
Naysan Rafati dari lembaga pemikir International Crisis Group menyebut strategi tersebut sebagai “Ayatollbooth”, permainan kata yang merujuk pada ayatollah dan gerbang tol. Ia menilai langkah itu melanggar norma global tentang kebebasan navigasi dan berpotensi ditiru negara lain yang sedang berkonflik. Meski begitu, Trump tetap terdengar optimistis. Pada 29 Maret, ia mengatakan Iran akan mengizinkan 20 kapal lagi melintas sebagai “tanda hormat”.
Kritik lain diarahkan pada besarnya biaya konflik. Masih merujuk pada The Art of the Deal, Trump pernah menekankan pentingnya “mengendalikan biaya”. Namun, perang yang semula diharapkan cepat disebut telah memasuki minggu kelima. Konflik ini diperkirakan sudah menghabiskan biaya militer langsung AS sebesar US$25 miliar, sementara Pentagon meminta tambahan US$200 miliar.
Dampak tidak langsungnya diperkirakan lebih besar. OECD memperkirakan, jika perang berlangsung lama, konflik dapat memangkas 0,5% produk domestik bruto (PDB) global tahun depan dan menambah inflasi sebesar 0,9 poin persentase. Gangguan pasokan pupuk juga disebut dapat memperburuk kelaparan global. Situasi itu dinilai membuat sekutu Amerika semakin menjauh dan menekan dukungan politik terhadap Trump.
Survei YouGov yang dilansir The Economist menunjukkan tingkat persetujuan bersih terhadap Trump berada di minus 18% pada 23 Maret 2026. Colin Dueck dari American Enterprise Institute mengatakan isu Iran kini tidak lagi sekadar kebijakan luar negeri yang jauh dan abstrak, melainkan telah menjadi persoalan “isi dompet” yang mudah dipahami pemilih.
Artikel tersebut juga menyoroti watak strategi Trump yang digambarkan dalam The Art of the Deal sebagai campuran agresi penuh dendam dan optimisme sempit—yakni keyakinan bahwa jika seseorang berbuat salah, maka harus dilawan dengan sangat keras, meski berisiko memperburuk keadaan, karena pada akhirnya “biasanya” akan berujung baik.
Dalam beberapa kasus, pendekatan ini disebut pernah menghasilkan keberhasilan, termasuk operasi pasukan khusus untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dan memasang pengganti. Namun di Iran, hasilnya dinilai berbeda. Perang sejauh ini disebut hanya memberikan sedikit manfaat selain menghancurkan sebagian besar persenjataan konvensional Iran. Sementara itu, Iran masih memiliki cadangan uranium dengan pengayaan tinggi dan dinilai kini memiliki alasan lebih kuat untuk membangun bom nuklir.
Senator Demokrat Jeanne Shaheen dari New Hampshire menilai para pemimpin Iran kemungkinan menyimpulkan bahwa mereka akan lebih baik jika memiliki senjata nuklir, karena dengan itu Amerika mungkin akan memperlakukan mereka seperti perlakuannya terhadap Vladimir Putin.
Pada 27 Maret, kedatangan pasukan marinir ekspedisioner AS di kawasan Teluk menjadi sinyal bahwa Trump mungkin kembali memilih langkah “melawan dengan sangat keras”. Thomas Wright, mantan anggota Dewan Keamanan Nasional pada era Presiden Joe Biden, memperkirakan bahwa jika Trump tetap bertahan, ia akan meningkatkan eskalasi. Kemungkinan skenario yang disebut mencakup perebutan terminal minyak Iran di Pulau Kharg, upaya membersihkan wilayah pesisir dari pasukan Iran yang mengancam kapal-kapal, atau serangan jauh ke wilayah Iran untuk merebut cadangan uranium negara itu.
Namun, dukungan publik terhadap eskalasi besar dinilai rendah. Sebanyak 62% pemilih menolak perang darat dan hanya 12% yang mendukungnya. Bahkan di kalangan pendukung Trump sendiri, kegelisahan disebut mulai muncul. Matt Gaetz, mantan calon jaksa agung pilihan Trump, mengatakan dalam konferensi pro-Trump CPAC di Texas bahwa invasi darat ke Iran akan membuat Amerika lebih miskin dan kurang aman.
Di sisi lain, Wright menilai negosiasi yang kini berlangsung melalui pihak perantara pada akhirnya “ditakdirkan gagal” karena hambatan utamanya adalah ketiadaan kepercayaan. Dalam bukunya, Trump mengakui gaya negosiasinya bergantung pada kebohongan yang ia sebut sebagai truthful hyperbole.
Rafati mengatakan para pemimpin Iran jarang mempercayai presiden Amerika dan punya alasan khusus untuk meragukan itikad baik Trump. Ia mengingatkan Trump pernah membatalkan perjanjian yang sebelumnya ditandatangani AS dengan Iran pada masa Presiden Barack Obama, serta memberi lampu hijau pada serangan bom menjelang jadwal perundingan.
Dalam situasi terkini, daftar 15 tuntutan Trump pada dasarnya mengandaikan Iran memberikan konsesi nyata—seperti menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi dan melepas misil jarak jauh—sebagai imbalan atas janji bahwa Trump tidak akan melanggar kesepakatan gencatan senjata. Jika Iran menganggap kata-kata Trump tidak bernilai, maka tawaran itu dinilai sulit diterima.
Pada 29 Maret, Ketua Parlemen Iran mengatakan musuh secara terbuka mengirim pesan negosiasi dan dialog, tetapi diam-diam merencanakan serangan darat. Dueck menilai Trump sebenarnya tidak menginginkan perang besar dan berdarah di luar negeri, tetapi berharap tontonan kekuatan dan intimidasi dapat menghasilkan kesepakatan.
Kurangnya kepercayaan juga disebut melemahkan posisi Trump di dalam negeri. Kalangan Republik MAGA cenderung percaya bahwa jika Trump mengatakan perang ini perlu, maka mungkin memang demikian. Namun warga Amerika lainnya lebih skeptis. Menurut Pew, hanya 22% yang percaya perang ini akan membuat mereka lebih aman.
Shaheen menilai tidak ada transparansi kepada publik AS soal perang tersebut dan mengatakan Trump tidak selalu bertindak demi kepentingan terbaik Amerika. Saat ditanya apakah dalam pengarahan rahasia yang ia terima sebagai anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat ada bukti bahwa situasinya lebih baik daripada yang terlihat, ia menjawab singkat, “Tidak.” Meski demikian, Trump digambarkan tetap tidak gentar, sejalan dengan pernyataannya dalam buku bahwa salah satu hal yang paling ia kuasai adalah “mengatasi hambatan”.

