Langkah diplomasi luar negeri Presiden Prabowo Subianto disebut merepresentasikan fenomena “blitz diplomacy” yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kepresidenan Indonesia. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, rangkaian kunjungan dan manuver diplomatik tersebut dilaporkan telah menjangkau lebih dari 28 negara.
Jangkauan diplomasi itu melintasi sejumlah poros kekuatan dunia, dari Beijing, Washington, London, hingga Moskow. Selain memperkuat relasi diplomatik, Indonesia juga disebut mengejar investasi asing dalam skala besar di tengah fragmentasi tatanan global yang kian memanas.
Urgensi langkah cepat ini disebut semakin terlihat ketika blokade Selat Hormuz pecah pada Februari 2026. Peristiwa itu dilaporkan memutus sekitar 30 persen pasokan minyak dunia dan mendorong nilai rupiah ke level terlemahnya, hingga menembus lebih dari Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut dinilai memaksa pemerintah bergerak cepat untuk mengamankan pasokan energi sekaligus menjaga kepercayaan investor agar arus modal asing tidak keluar. Dalam konteks itu, diplomasi luar negeri diposisikan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga sektor-sektor penting di dalam negeri di tengah tekanan global.