Pembicaraan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu siang (12/4). Kebuntuan ini memperpanjang ketidakpastian di tengah ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan koalisi AS dan Israel berhadapan dengan Iran.
Diplomasi tersebut berlangsung setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak. Pertemuan awalnya direncanakan dapat berlanjut hingga dua pekan sejak Jumat (10/4). Namun, pada akhirnya delegasi Iran dan AS meninggalkan Islamabad tanpa hasil yang memuaskan.
Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan juru bicara parlemen Mohammad Baqer Qalibaf. Dari pihak AS, perundingan dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance. Pakistan bertindak sebagai penengah melalui Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.
Vance mengatakan pembicaraan berlangsung hingga 21 jam sampai Minggu, tetapi tidak menghasilkan titik temu. Ia menilai hasil tersebut sama-sama buruk bagi kedua negara. “Kabar buruknya, tidak ada kesepakatan yang terjadi. Saya rasa ini sama buruknya bagi Iran sebagaimana hasil ini juga berdampak buruk untuk AS. Kami sendiri sudah menyatakan posisi kami sejelas-jelasnya,” kata Vance, dikutip dari Al-Jazeera, sesaat sebelum kembali ke AS.
Menurut Vance, sejumlah topik gagal mencapai kesepakatan. Salah satu yang paling menjadi sorotan AS adalah belum adanya persetujuan Iran terhadap seluruh proposal AS terkait pengembangan nuklir. “Kami perlu pembuktian komitmen bahwa mereka (Iran) tidak akan menciptakan persenjataan nuklir, dan juga tidak melakukan pengadaan peralatan produksi senjata nuklir,” ujarnya.
Dari pihak Iran, Qalibaf menyampaikan alasan kebuntuan perundingan berkaitan dengan persoalan kepercayaan. Ia menilai AS juga perlu menunjukkan komitmen terhadap perdamaian, dengan merujuk pada serangan Israel terhadap Lebanon sehari sebelum diplomasi dimulai (9/4), serta sejarah konflik antara AS dan Iran selama setengah abad terakhir.
“Sebelum diplomasi dimulai saya tekankan bahwa kami punya niatan baik, namun karena peperangan yang dulu terjadi antara AS dan Iran, kami masih ada rasa tidak percaya pada mereka. Dengan pembicaraan kali ini, saya harap AS dapat memahami prinsip dan jalan pikiran bangsa Iran. Sekarang tinggal menunggu apakah kini kami dapat memercayai mereka atau tidak,” tulis Qalibaf melalui media sosial pribadinya.
Dengan berakhirnya pertemuan tanpa kesepakatan, upaya diplomasi kedua negara masih menghadapi hambatan besar, terutama karena kuatnya sikap saling curiga di antara kedua pihak.