JAKARTA — Hubungan diplomatik Indonesia dan Iran dilaporkan memasuki fase krusial, seiring proses perundingan terkait pembukaan akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik Pertamina yang disebut masih menghadapi hambatan.
Salah satu isu yang dinilai menjadi batu sandungan adalah penahanan serta rencana pelelangan kapal tanker berbendera Iran, MT Arman 114, oleh otoritas Indonesia. Perkara ini disebut berpengaruh terhadap dinamika pembahasan akses pelayaran di kawasan tersebut.
Hingga akhir Maret 2026, dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk. Meski demikian, Pemerintah Iran disebut telah memberikan respons positif dan mempertimbangkan jaminan keamanan agar kedua kapal dapat keluar dari Selat Hormuz.
Saat ini, PIS dan Kementerian Luar Negeri RI dikabarkan tengah membahas detail teknis untuk memastikan pelayaran yang aman. Walaupun izin disebut sudah ada, jadwal pasti keberangkatan kedua kapal tersebut masih dalam tahap pengaturan.
Proses diplomasi yang berjalan alot ini disebut bermula dari penyitaan MT Arman 114 oleh Kejaksaan Agung RI pada Juli 2023. Kapal tersebut disita terkait dugaan pembuangan limbah dan transfer minyak ilegal di perairan Natuna.
Rencana pelelangan kapal beserta muatan 1,25 juta barel minyak mentah yang disebut bernilai Rp1,17 triliun memicu reaksi keras dari Teheran. Lelang pertama pada Desember 2025 dinyatakan gagal karena minim peminat. Setelah itu, Kejaksaan Agung melalui Badan Pemulihan Aset (BPA) kembali menjadwalkan lelang pada Januari hingga Februari 2026.

