Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengoptimalkan diplomasi energi ke Rusia sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan global. Dalam langkah tersebut, Rusia menyatakan dukungan terhadap ketahanan energi Indonesia, termasuk terkait minyak dan liquefied petroleum gas (LPG).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam misi tersebut. Diplomasi ini diarahkan untuk memastikan stabilitas pasokan energi domestik, dengan sejumlah isu yang dibahas meliputi potensi kerja sama pasokan minyak mentah, investasi sektor energi, hingga pengembangan infrastruktur seperti kilang minyak.
Untuk memperdalam pembahasan teknis, Bahlil bertemu Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada Selasa (14/4/2026). Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua pihak membahas peluang kerja sama energi yang dapat segera ditindaklanjuti, terutama terkait kepastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Bahlil menyampaikan Rusia menyatakan kesiapan mendukung ketahanan energi Indonesia melalui suplai minyak dan gas, pengembangan fasilitas penyimpanan (storage), hingga kerja sama di sektor kelistrikan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pertemuan turut dihadiri perwakilan sejumlah perusahaan energi Rusia, antara lain Rosneft, Ruschem, Zahrubesneft, dan Lukoil.
“Hari ini saya baru selesai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Energi Rusia dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan pembicaraan antara Presiden Prabowo dengan Presiden Putin. Alhamdulillah apa yang sudah menjadi kesepakatan itu, kita mendapatkan hasil yang cukup baik di mana kita bisa mendapatkan cadangan crude kita untuk kita nambah. Di samping itu juga kita akan bisa mendapatkan LPG,” ujar Bahlil seusai pertemuan, dikutip dari keterangan resmi.
Bahlil menegaskan penjajakan kerja sama dilakukan melalui skema antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarbisnis (business to business/B2B). Skema tersebut diharapkan dapat memberi kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya minyak mentah dan LPG.
Ia juga menyatakan Indonesia terbuka memperluas kolaborasi dengan Rusia, termasuk pengembangan storage crude, pasokan jangka panjang minyak mentah dan LPG, penjajakan nuklir, serta kerja sama di sektor mineral. “Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional,” kata Bahlil.
Bahlil menilai hasil pertemuan tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu. Menurutnya, kemitraan dengan Rusia dapat menjadi salah satu opsi penting mengingat kapasitas produksi energi negara tersebut yang besar serta pengalamannya di industri minyak dan gas.
Di sisi Rusia, Sergey Tsivilev menyatakan kesiapan negaranya untuk berkolaborasi dengan Indonesia. “Sebagai mitra strategis, kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas, penyimpanan, maupun kelistrikan dalam hal ini pembangkit listrik tenaga nuklir,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia memandang Rusia sebagai mitra penting dalam mendukung stabilitas energi, sekaligus menjaga kepentingan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Diplomasi ini menegaskan komitmen Indonesia untuk terus aktif dan berorientasi pada kepentingan nasional di tengah volatilitas pasar energi dunia yang dipengaruhi faktor geopolitik dan fluktuasi produksi.