BERITA TERKINI
Diplomasi Energi di Jepang, Bahlil Dorong Indonesia Naik Peran dalam Rantai Pasok Energi Global

Diplomasi Energi di Jepang, Bahlil Dorong Indonesia Naik Peran dalam Rantai Pasok Energi Global

Langkah diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Jepang dinilai menjadi momen penting bagi perubahan posisi Indonesia di kancah global. Indonesia disebut mulai bergeser dari citra sebagai pemasok bahan mentah menjadi aktor yang lebih aktif dalam rantai pasok energi dunia.

Pengamat kebijakan publik Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Henry Indraguna, menilai kunjungan tersebut mencerminkan keberanian Indonesia dalam menentukan arah kepentingan nasional secara lebih mandiri. “Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi global, tetapi sudah menjadi subjek yang aktif menentukan arah kebijakan strategisnya,” kata Henry, Selasa (24/3/2026).

Menurut Henry, kerja sama energi dengan Jepang membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan posisi dalam rantai nilai global, terutama melalui hilirisasi sumber daya alam dan penguasaan teknologi. Ia menilai pendekatan ini sejalan dengan konsep pertumbuhan ekonomi modern yang menitikberatkan pada inovasi serta peningkatan nilai tambah di dalam negeri. “Penguasaan teknologi dan hilirisasi adalah kunci agar Indonesia tidak terjebak sebagai negara pengekspor bahan mentah semata,” ujarnya.

Dalam kunjungan ke Tokyo, Bahlil bertemu dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa. Dari pertemuan itu, kedua pihak menghasilkan dua nota kesepahaman (MoU) yang mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.

Pemerintah juga mendorong percepatan investasi migas oleh Inpex Corporation dalam proyek strategis Lapangan Abadi Blok Masela yang bernilai sekitar Rp339 triliun. Di saat yang sama, Indonesia menawarkan kerja sama pengelolaan komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang dinilai penting dalam transisi energi global.

Kerja sama Indonesia dan Jepang turut diperluas ke sektor energi bersih, termasuk gas alam cair (LNG) dan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Sejumlah proyek yang menjadi perhatian antara lain pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dan optimalisasi energi panas bumi.

Henry menekankan pentingnya kepastian hukum dalam proyek-proyek strategis guna menjaga kepercayaan investor global. Menurutnya, proyek seperti Blok Masela dapat menjadi indikator bahwa Indonesia merupakan mitra yang kredibel dan stabil di tengah dinamika global.

Namun, ia juga mengingatkan agar setiap kerja sama internasional tetap dikawal ketat agar sejalan dengan kepentingan nasional, terutama dalam menjaga kedaulatan energi dan keberlanjutan sumber daya alam. Dengan strategi diplomasi yang dinilai semakin agresif dan terarah, Indonesia disebut memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat kekuatan energi baru di kawasan Indo-Pasifik.