Pemerhati kebijakan publik dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof. Henry Indraguna, menilai diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jepang mencerminkan perubahan posisi Indonesia dalam percaturan global.
Henry mengatakan Indonesia tidak lagi berada pada posisi pasif dalam relasi kuasa internasional, melainkan semakin aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri. Menurutnya, langkah pemerintah juga menjadi upaya mengubah narasi lama yang kerap menempatkan negara berkembang hanya sebagai pemasok bahan mentah, sekaligus mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.
Ia menilai, penguatan kerja sama dan investasi asing yang terintegrasi dengan struktur industri nasional berpotensi membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh menghadapi tekanan eksternal. Henry juga menyoroti pentingnya kepastian hukum pada proyek strategis, termasuk Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela, sebagai sinyal positif bagi investor global.
Secara yuridis, Henry menekankan implementasi nota kesepahaman (MoU) yang disepakati perlu dikawal agar tetap sejalan dengan kepentingan nasional. Ia menilai kerja sama internasional harus memberi manfaat yang adil dan berkelanjutan, serta pemanfaatan sumber daya alam tidak semata mengejar pertumbuhan, tetapi juga mendukung kemandirian energi jangka panjang.
Henry meyakini penguatan posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik melalui diplomasi energi dapat menjadi fondasi untuk menjadikan Indonesia pusat kekuatan energi baru pada masa depan.
Pernyataan Henry disampaikan menyusul kunjungan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Tokyo, Jepang, pada medio Maret 2026. Dalam kunjungan itu, Indonesia memperkuat kerja sama strategis sektor energi dan mineral dengan Pemerintah Jepang.
Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa, Bahlil menyepakati dua MoU yang mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.
Selain itu, Bahlil mendorong percepatan investasi migas oleh Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela dengan nilai mencapai Rp339 triliun. Proyek tersebut disebut strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah Indonesia juga menawarkan pengelolaan bersama sejumlah komoditas strategis kepada Jepang, termasuk nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang dinilai penting dalam transisi energi global.
Kerja sama kedua negara turut diperluas ke sektor batu bara, gas alam cair (LNG), serta proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Fokus proyek antara lain penyelesaian PLTSa Legok Nangka dan optimalisasi PLTP Sarulla.

