ISLAMABAD — Islamabad bersiap menggelar pertemuan delegasi Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu ini, dengan pengamanan ketat dan informasi yang dibatasi. Kedatangan delegasi dari Washington dan Teheran dikabarkan berlangsung dalam waktu berdekatan, dengan rute pendaratan diarahkan ke Pangkalan Udara Nur Khan, sebuah markas militer Pakistan.
Dari pangkalan tersebut, rombongan dijadwalkan bergerak menuju Red Zone (Zona Merah), kawasan paling steril di ibu kota Pakistan yang menjadi pusat kompleks pemerintahan. Otoritas setempat menerapkan pembatasan ketat: detail lokasi perundingan dirahasiakan, waktu kedatangan dibuat tidak jelas, dan akses media dijauhkan dari titik-titik strategis.
Sejumlah hotel disebut dikosongkan secara diam-diam, sementara pejabat Pakistan membatasi pernyataan publik. Komunikasi resmi lebih sering muncul dalam potongan informasi di media sosial X ketimbang melalui konferensi pers terbuka. Di sekitar gedung perundingan—yang disebut-sebut berada dekat kompleks pemerintah di kawasan Red Zone—barikade, kendaraan lapis baja, dan aparat berseragam tampak mendominasi pemandangan.
Di balik pengamanan berlapis, proses persiapan perundingan diyakini tidak hanya berlangsung di ruang utama. Sejumlah pembahasan teknis disebut telah dikerjakan sebelumnya, termasuk penyusunan dokumen awal yang merangkum tuntutan dan kepentingan kedua pihak. Dalam konteks ini, kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif disebut memegang peran penting melalui tim khusus yang menyiapkan rancangan-rancangan awal.
Agenda perundingan dinilai melampaui sekadar seruan “menghentikan perang”. Dari pihak Amerika Serikat, tuntutan yang disebut mengemuka mencakup pembatasan ketat program nuklir Iran, jaminan keamanan jalur energi terutama di Selat Hormuz, serta komitmen Iran untuk menahan pengaruh militernya di kawasan, termasuk di Lebanon. Dalam kerangka besar, tujuan yang dikedepankan adalah stabilitas regional.
Sementara itu, Iran disebut membawa rencana 10 poin yang berisi tuntutan penghentian total sanksi, pencairan aset yang dibekukan, jaminan tidak ada lagi serangan militer, hingga pengakuan atas hak kedaulatan penuh, termasuk pengembangan teknologi nuklir sipil. Dalam narasi yang menyertai sikap Iran, ingatan sejarah—termasuk peristiwa 1953—dipandang ikut membentuk posisi perundingan mereka.
Perundingan ini berlangsung di tengah bayang-bayang ketidakpercayaan yang panjang. Disebutkan bahwa jika delegasi Amerika Serikat menolak mentah-mentah keseluruhan syarat Iran, optimisme yang ada dapat runtuh dan memperkuat anggapan bahwa pertemuan ini hanya formalitas sebelum ketegangan berlanjut.
Dari Washington, delegasi Amerika Serikat disebut dipimpin JD Vance, wakil presiden yang dinilai tidak terlalu “haus perang” dan karena itu dianggap tidak langsung ditolak oleh Iran. Dari Teheran, nama Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi muncul sebagai representasi delegasi. Ghalibaf disebut membawa latar militer dan politik, sementara Araghchi dikenal sebagai diplomat berpengalaman.
Sejumlah analis menggambarkan jalur perundingan sebagai opsi yang lebih murah dibandingkan kelanjutan eskalasi, setelah sanksi, tekanan ekonomi, dan perang terbuka dinilai tidak menyelesaikan masalah. Namun pesimisme juga menguat, mengingat sejarah negosiasi AS-Iran yang kerap diwarnai kecurigaan dan perubahan syarat di tengah proses.
Di luar ruang perundingan, situasi kawasan turut membayangi. Serangan Israel ke Lebanon yang menewaskan ratusan warga sipil disebut memicu reaksi dan pernyataan keras dari Pakistan terhadap Israel. Dunia internasional merespons dengan pola yang berulang: kecaman, keprihatinan, dan seruan menahan diri. Amerika Serikat, menurut narasi yang beredar, meminta agar operasi dilakukan “lebih low key”.
Dengan latar tersebut, pertemuan di Islamabad diposisikan sebagai ujian apakah diplomasi masih dapat bekerja di tengah jeda perang yang belum sepenuhnya berhenti. Hasilnya dipandang menentukan: keberhasilan akan dibaca sebagai tanda bahwa jalur dialog masih mungkin, sementara kegagalan berpotensi menambah daftar panjang catatan diplomasi yang tidak berujung.