Jakarta, 12 April 2026 — Pengamat Timur Tengah Dina Sulaiman menilai dinamika konflik modern semakin menunjukkan bahwa keunggulan tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh kemampuan mengubah tekanan menjadi posisi tawar dalam diplomasi. Dalam pembacaannya, Iran dinilai berhasil menunjukkan kemampuan itu bahkan sebelum proses perundingan berjalan sepenuhnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Dina dalam forum Halal Bihalal Dewan Syura Ahlulbait Indonesia di Islamic Cultural Center Jakarta, Sabtu (11/4/2026). Ia menggambarkan Iran datang ke meja perundingan dengan prasyarat yang jelas dan terukur.
Dina menyoroti dua indikator utama: pencairan dana sebesar 7 miliar dolar AS yang sebelumnya dibekukan di Qatar, serta tuntutan penghentian serangan terhadap Lebanon. Menurutnya, kedua hal itu mengindikasikan Teheran tidak berada dalam posisi defensif, melainkan mampu mengubah tekanan menjadi leverage.
Ia juga menilai pencairan dana tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian tuntutan Iran telah dipenuhi sebelum perundingan berjalan penuh. Dalam logika diplomasi, kata Dina, situasi itu bukan sekadar konsesi, tetapi dapat dibaca sebagai pengakuan implisit atas posisi tawar Iran.
Di sisi lain, Dina menilai sejumlah target besar Amerika Serikat yang sebelumnya sering disampaikan—mulai dari perubahan rezim, penghentian program nuklir, pembatasan rudal, hingga pemutusan dukungan terhadap jaringan poros perlawanan—belum menunjukkan capaian yang signifikan. Ketika tujuan strategis tidak tercapai, ruang untuk mendikte hasil perundingan dinilai menyempit.
Dalam konteks tersebut, Dina menyimpulkan bahwa pihak yang tidak mencapai tujuan tidak berada dalam posisi untuk mengatur arah negosiasi.
Ia juga menyinggung pergeseran persepsi publik, termasuk di Indonesia. Dina menyebut dukungan terhadap Iran melampaui 80 persen, yang menurutnya mencerminkan perubahan cara pandang. Iran, dalam narasi ini, tidak lagi dilihat semata melalui kacamata ideologi, tetapi juga melalui kapasitasnya mengelola negara di tengah tekanan eksternal.
Dina menambahkan, meningkatnya ketertarikan publik pada aspek keseharian—seperti peran perempuan, stabilitas harga, hingga sistem sosial—menunjukkan bahwa legitimasi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh narasi politik, tetapi juga oleh performa domestik.
Terkait isu Palestina, Dina menilai tidak dicantumkannya persoalan tersebut secara eksplisit dalam poin-poin perundingan memunculkan pertanyaan. Namun, ia merujuk pada laporan mediator yang menyebut penghentian agresi terhadap “sekutu” Iran secara implisit mencakup kelompok perlawanan di Palestina. Hal itu, menurutnya, mengindikasikan strategi diplomasi bertahap agar ruang negosiasi tetap terbuka tanpa mengunci posisi sejak awal.
Dina juga menyoroti perkembangan di dalam Amerika Serikat. Ia menilai adanya retakan dukungan sebagian kelompok terhadap kebijakan pro-Israel, terutama terkait bantuan persenjataan, sebagai tekanan internal yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan luar negeri Washington.
Dengan berbagai faktor tersebut, Dina menilai konflik tidak lagi dapat dibaca secara sederhana sebagai pertarungan antarnegara. Menurutnya, situasi telah bergeser menjadi persaingan yang lebih kompleks antara strategi, persepsi, dan daya tahan politik.
Dalam kondisi seperti itu, Dina menegaskan, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh pihak yang paling kuat secara militer, melainkan oleh pihak yang mampu mengubah tekanan menjadi posisi tawar dan mempertahankannya hingga meja perundingan. Ia menilai Iran, setidaknya untuk saat ini, menunjukkan kemampuan tersebut, meski pertanyaan mengenai apakah hal itu akan menentukan arah akhir konflik atau justru membuka babak baru yang lebih panjang masih terbuka.