BERITA TERKINI
Didorong Ancaman Siber dan AI, Perusahaan di Asia Pasifik Kian Didorong Terapkan Kedaulatan Digital

Didorong Ancaman Siber dan AI, Perusahaan di Asia Pasifik Kian Didorong Terapkan Kedaulatan Digital

Jakarta — Ketahanan siber di kawasan Asia Pasifik (APAC) menjadi sorotan dalam sesi media yang diselenggarakan IBM. Dalam kegiatan tersebut, IBM menampilkan simulasi interaktif dan gamifikasi live-action dari pakar keamanan siber Security X-Force Cyber Range untuk membantu organisasi menguji serta meningkatkan kemampuan respons insiden dalam kondisi yang aman dan terkontrol.

Deputy Head of IBM X-Force Cyber Range, Jake Paulson, memandu simulasi skenario serangan siber bagi media dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Ia menjelaskan bagaimana pelaku kejahatan siber beroperasi dan bagaimana tim pertahanan merespons, sekaligus menekankan bahwa kecerdasan buatan (AI) mengubah secara mendasar cara pertahanan siber diperkuat.

Menurut Paulson, AI meningkatkan visibilitas, kecepatan, dan presisi di seluruh siklus keamanan. Dengan kemampuan tersebut, organisasi dapat mengantisipasi ancaman, merespons secara real time, dan menjaga posisi tetap selangkah di depan di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks.

IBM juga memaparkan sejumlah temuan dari IBM X-Force 2026 Threat Intelligence Index untuk Asia Pasifik. Kawasan APAC disebut menyumbang 27% dari total insiden yang ditangani X-Force secara global. Pada 2025, APAC berada di peringkat kedua setelah sebelumnya menempati peringkat pertama pada 2024.

Dalam laporan itu, ketergantungan tinggi pada eksploitasi aplikasi yang dipakai publik (50%) serta penggunaan akun yang valid (30%) sebagai vektor akses awal dinilai mengindikasikan adanya kerentanan pada infrastruktur digital di kawasan tersebut. Pelaku serangan di APAC juga kerap menggunakan malware (45%), spam (15%), tool yang terlegitimasi (15%), dan akses server (10%) sebagai tindakan utama.

Dampak utama yang ditargetkan atau terjadi pada korban mencakup pencurian data (14%), reputasi merek (14%), dan pengumpulan kredensial (7%). Dari sisi sektor, manufaktur disebut terus menjadi episentrum insiden dengan kontribusi 68% dari total serangan di kawasan ini. Rinciannya, 65% insiden menargetkan industri manufaktur, disusul sektor keuangan dan asuransi (17%) serta transportasi (7%).

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan didorong mengadopsi strategi kedaulatan digital untuk memperkuat ketahanan keamanan. Dalam konteks perusahaan, kedaulatan dimaknai sebagai tingkat kendali organisasi atas aset digitalnya, termasuk data, perangkat lunak, konten, dan infrastruktur digital di seluruh operasional.

Proyeksi yang disampaikan menyebut pasar cloud berdaulat diperkirakan tumbuh 4,5 kali lipat pada 2028, sementara 80% perusahaan multinasional diperkirakan mengadopsi strategi data berdaulat pada 2027. Kedaulatan digital ini mencakup Kedaulatan Data, Kedaulatan Teknologi, dan Kedaulatan Operasional.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, IBM memperkenalkan Sovereign Core pada Januari 2026 sebagai fondasi perangkat lunak baru. Solusi ini dirancang agar data, identitas, kunci enkripsi, dan akses administratif tetap berada dalam batas yurisdiksi yang ditetapkan. IBM menyebut pendekatan ini memungkinkan organisasi menerapkan sistem terkelola sendiri yang aman, patuh regulasi, dan terotomatisasi guna mendukung beban kerja AI yang berdaulat.

General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN, Catherine Lian, menyatakan kedaulatan digital kini menjadi kebutuhan dalam keamanan siber di Asia Tenggara. Ia menilai infrastruktur berdaulat yang siap AI dapat memberikan tingkat keamanan, kepatuhan, dan kepastian yang dibutuhkan pelaku usaha untuk berinovasi dalam skala besar.