Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid menggelar dialog akademik bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran–Israel–AS dalam Perspektif Perang Global” pada Jumat, 10 April 2026. Forum ini menghadirkan pembacaan multidisipliner atas konflik, tidak hanya dari sisi geopolitik, tetapi juga peran komunikasi, media, dan teknologi dalam membentuk realitas konflik global.
Dalam paparan mengenai geopolitik Timur Tengah, KH Fatur Fathurahman Yahya—analis geopolitik Timur Tengah sekaligus mahasiswa angkatan 29 Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid—menilai konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari ketegangan struktural antara sistem nilai Barat dan karakter sosial-politik di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa demokrasi sebagai produk ideologis Barat tidak selalu kompatibel dengan konteks lokal, sebagaimana terlihat dalam pengalaman di Iran maupun Afghanistan.
Fatur juga menyoroti posisi strategis Iran melalui Selat Hormuz sebagai faktor krusial yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Ia menambahkan bahwa dinamika kekuatan global menunjukkan pergeseran pengaruh: China dinilai semakin siap secara strategis melalui diversifikasi energi, Inggris mulai memperkuat perannya di kawasan, sementara pengaruh geopolitik Amerika Serikat disebut mengalami penurunan relatif, terutama pada era kepemimpinan Donald Trump.
Dari perspektif militer-strategis, Didin Nasirudin—Managing Director sekaligus mahasiswa angkatan 35 Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid—menguraikan bahwa konflik tidak semata berbasis kekuatan konvensional, tetapi juga dipengaruhi doktrin keamanan eksistensial Israel. Ia mengaitkan sikap preventif Israel terhadap ancaman nuklir dengan pengalaman historis, termasuk tragedi pemboman Hiroshima, yang menurutnya membentuk kewaspadaan tinggi terhadap potensi proliferasi nuklir di kawasan.
Didin menilai secara material aliansi Amerika Serikat–Israel memiliki keunggulan signifikan dibandingkan Iran, baik dari segi persenjataan, intelijen, maupun infrastruktur militer global. Namun ia juga menekankan faktor domestik sebagai variabel penting, terutama tekanan politik internal di Amerika Serikat yang dapat membatasi eskalasi konflik dalam jangka panjang.
Dimensi komunikasi dan media menjadi sorotan berikutnya melalui pemaparan Henry Sianipar—Produser Liputan 6 SCTV sekaligus mahasiswa angkatan 33 Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid. Ia menilai perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang digital melalui konstruksi narasi dan framing media. Menurutnya, algoritma media sosial berperan memproduksi realitas yang bias, dengan kecenderungan menonjolkan opini mayoritas yang kerap pro-perang dibandingkan suara kritis.
Henry mengaitkan fenomena tersebut dengan teori framing dalam studi komunikasi, yang menjelaskan bahwa media bukan hanya menyampaikan informasi, melainkan turut membentuk cara audiens memahami realitas. Ia juga menyoroti peran teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai instrumen strategis: Amerika Serikat disebut memanfaatkan AI untuk keperluan intelijen dan penargetan militer, sementara Iran menggunakannya dalam produksi konten propaganda, termasuk teknik deepfake.
Diskusi kemudian mengarah pada refleksi mengenai implikasi teknologi terhadap eksistensi manusia. Dalam logika algoritmik, individu dapat direduksi menjadi data dan kode yang dapat dilacak, dianalisis, hingga dieliminasi secara presisi. Pandangan ini menegaskan bahwa ancaman teknologi tidak hanya terletak pada kecanggihannya, tetapi juga pada perubahan cara manusia memaknai dirinya dalam sistem digital.
Kepala Prodi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, Assoc. Prof. Dr. Prasetya Yoga Santoso, menyatakan forum tersebut merupakan bagian dari upaya akademik untuk memperkaya perspektif mahasiswa doktoral dalam membaca isu-isu global secara kritis dan kontekstual. Dengan mengintegrasikan pendekatan geopolitik, komunikasi, dan teknologi, dialog ini membuka ruang refleksi bahwa konflik modern merupakan fenomena kompleks yang tidak dapat dipahami secara parsial.
Secara keseluruhan, forum itu menyimpulkan bahwa potensi konflik global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan juga pertarungan narasi, legitimasi, dan kontrol informasi. Dalam era konvergensi media dan teknologi, perang dinilai tidak lagi semata soal senjata, tetapi juga tentang siapa yang menguasai makna.