BERITA TERKINI
Di Tengah Tekanan Politik AS dan Gejolak Minyak, BTC dan USDT Mendominasi Volume Perdagangan di Bittime

Di Tengah Tekanan Politik AS dan Gejolak Minyak, BTC dan USDT Mendominasi Volume Perdagangan di Bittime

Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat seiring kombinasi tekanan politik di Amerika Serikat dan memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah situasi tersebut, data volume perdagangan harian di platform Bittime menunjukkan Bitcoin (BTC) dan Tether (USDT) masih menjadi aset kripto yang paling dominan diperdagangkan investor di Indonesia.

Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump secara terbuka mendesak bank sentral AS (The Fed) untuk menurunkan suku bunga. Berdasarkan data Coinvestasi, Trump menilai suku bunga tinggi berisiko merugikan ekonomi dan berpotensi mengganggu keamanan nasional. Penurunan suku bunga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar, yang pada akhirnya dapat mengalir ke berbagai aset investasi, termasuk kripto.

Namun, dorongan tersebut berhadapan dengan kondisi lain yang menekan pasar, yakni konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini memicu fluktuasi tajam harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh 100 dolar AS per barel. Mengacu pada data Cointelegraph, kenaikan harga energi turut mendorong ekspektasi inflasi, sehingga pasar mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya untuk mengendalikan kenaikan harga.

Ketidakpastian makroekonomi itu berdampak pada pergerakan Bitcoin. Di pasar global, BTC sempat terkoreksi hingga menyentuh level 68.160 dolar AS akibat aksi jual massal.

Meski volatilitas meningkat secara internasional, aktivitas perdagangan di dalam negeri menunjukkan kecenderungan lain. Bittime mencatat BTC dan USDT tetap menjadi aset dengan volume perdagangan tertinggi. Penggunaan stablecoin seperti USDT juga terlihat menonjol, terutama melalui pasangan perdagangan rupiah terhadap USDT yang dipilih banyak pelaku pasar untuk menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian.

Dominasi USDT mencerminkan strategi investor yang cenderung mencari perlindungan nilai ketika pasar berada dalam tekanan. Data Coinvestasi menyebut Bitcoin sedang menguji level dukungan kritis; jika gagal bertahan di atas level tertentu, peluang penurunan lebih lanjut masih terbuka. Dalam kondisi seperti itu, sebagian investor memanfaatkan USDT sebagai jembatan likuiditas agar tetap siap masuk kembali ketika harga dinilai telah mencapai titik terendah.

Keberadaan pasangan USDT dengan rupiah juga dinilai memudahkan investor lokal bertransaksi dengan cepat tanpa harus terpapar fluktuasi nilai tukar dolar yang ikut tidak menentu.

Ke depan, arah pasar kripto diperkirakan sangat dipengaruhi oleh perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah serta keputusan resmi The Fed pada pertemuan berikutnya.

Bittime, sebagai platform perdagangan aset kripto yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), menyatakan komitmen untuk menyediakan ekosistem perdagangan yang aman, transparan, dan mudah diakses bagi investor di Indonesia.

Di sisi lain, investor diingatkan agar tidak semata mengandalkan tren, melainkan memahami fundamental dan risiko yang menyertai aset kripto. Risiko tersebut mencakup fluktuasi harga, potensi kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, serta perubahan regulasi yang menjadi tanggung jawab pengguna. Riset mandiri dan diskusi dengan komunitas terpercaya disebut penting untuk membantu pengambilan keputusan.