BERITA TERKINI
Delegasi Welcome Clubs International Tinjau Transformasi Ekonomi Batik Komunitas di Giriloyo

Delegasi Welcome Clubs International Tinjau Transformasi Ekonomi Batik Komunitas di Giriloyo

Sektor ekonomi kreatif berbasis warisan budaya dinilai terus memperkuat ketahanan ekonomi lokal yang inklusif di Indonesia. Aktivitas ekonomi yang berpusat pada komunitas, seperti industri batik rumahan, disebut mampu mengintegrasikan pelestarian tradisi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi perempuan di wilayah pedesaan.

Dalam konteks tersebut, sekitar 100 delegasi Welcome Clubs International (WCI) yang hadir dalam WCI Biennial Conference melakukan kunjungan kerja ke Kampung Batik Giriloyo, Imogiri, Yogyakarta. Kunjungan ini ditujukan untuk meninjau transformasi industri batik berbasis komunitas serta memahami kaitan antara warisan budaya dan kemandirian finansial masyarakat.

Kegiatan lapangan itu menjadi bagian dari rangkaian konferensi internasional yang tahun ini dipandu oleh Women’s International Club (WIC) Jakarta dengan tema “Bridging Traditions and Transformations”. Tema tersebut menyoroti bagaimana pendidikan dan warisan budaya dapat menjadi modal utama dalam memperkuat kemandirian ekonomi komunitas.

Ketua WCI Biennial Conference, Dr. Nina Handoko, menjelaskan pemilihan Yogyakarta, khususnya Giriloyo, dimaksudkan untuk memperlihatkan sisi lain dinamika ekonomi Indonesia. Menurut dia, jika Jakarta merepresentasikan pertumbuhan kota metropolitan, Yogyakarta menawarkan model living heritage yang dapat menjadi sumber penguatan ekonomi masyarakat.

“Di Giriloyo, para delegasi dapat menyaksikan bagaimana batik terus bertransformasi menjadi sumber penguatan ekonomi yang mampu mengangkat harkat komunitas, terutama perempuan,” ujar Dr. Nina.

Dalam diskusi panel yang menyertai kunjungan tersebut, pengamat pelestarian pusaka budaya dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Laretna Adhisakti, memaparkan aspek resiliensi para perajin. Ia menyoroti perjalanan perempuan pembatik di Imogiri yang sempat terdampak gempa bumi 2006, namun kemudian bangkit melalui penguatan kemandirian ekonomi berbasis keterampilan tradisional.

Praktisi batik Afif Syakur menambahkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui inovasi desain dan edukasi dinilai penting agar produk budaya tetap relevan di pasar global. Ia menekankan perlunya penguatan kapasitas perajin agar batik tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga berkembang sebagai usaha yang mandiri dan berkelanjutan.

Melalui kunjungan tersebut, para delegasi dari belasan negara menyaksikan secara langsung bagaimana batik di Giriloyo berkembang dari kerajinan tangan menjadi motor ekonomi inklusif yang mendorong kemandirian komunitas, termasuk melalui peran dan keterlibatan perempuan dalam proses produksi serta pengembangan desain.