BERITA TERKINI
Delegasi Perempuan Dunia Jadikan Giriloyo Panggung Diplomasi Budaya Lewat Batik

Delegasi Perempuan Dunia Jadikan Giriloyo Panggung Diplomasi Budaya Lewat Batik

Sekitar 100 delegasi Welcome Clubs International (WCI) Biennial Conference dari belasan klub perempuan internasional mengunjungi Kampung Batik Giriloyo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian konferensi internasional yang tahun ini diselenggarakan dengan Women’s International Club (WIC) Jakarta sebagai tuan rumah.

Agenda di Giriloyo menjadi salah satu program budaya utama konferensi bertema “Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World”. Melalui kunjungan tersebut, para delegasi diajak melihat batik bukan hanya sebagai karya seni dan identitas budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, penguatan ekonomi, serta pemberdayaan komunitas, terutama perempuan.

Ketua WCI Biennial Conference, Nina Handoko, mengatakan rangkaian kegiatan dirancang sebagai ruang pertukaran budaya dan diplomasi masyarakat. Setelah mengikuti agenda di Jakarta, para delegasi melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk mengenal sisi Indonesia yang kuat dengan akar tradisi, sejarah, dan warisan budaya.

Menurut Nina, kunjungan ke Yogyakarta sengaja dihadirkan untuk memberi kontras setelah para peserta merasakan dinamika Jakarta sebagai kota metropolitan. Ia menyebut Giriloyo memperlihatkan bagaimana batik bertransformasi dari warisan yang dijaga turun-temurun menjadi living heritage yang hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi sumber penguatan ekonomi yang dapat mengangkat harkat komunitas, terutama perempuan.

Dalam kunjungan itu, para peserta mengikuti sesi membatik langsung bersama perajin batik Giriloyo. Melalui pengalaman praktik, mereka diperkenalkan pada proses membatik yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan keterampilan, sekaligus memahami batik sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang terus diwariskan, dikembangkan, dan menjadi penopang ketahanan ekonomi komunitas.

Nina juga menekankan bahwa batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda ditampilkan di Giriloyo bukan semata sebagai produk akhir, melainkan sebagai proses budaya yang hidup. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk diplomasi budaya yang memperkenalkan Indonesia melalui nilai ketekunan, kebersamaan, dan pemberdayaan yang tumbuh di masyarakat.

Selain praktik membatik, kegiatan juga menghadirkan diskusi panel dengan dua narasumber yang menyoroti pelestarian batik dan pemberdayaan perempuan. Laretna Adhisakti—arsitek, pengajar Universitas Gadjah Mada, sekaligus Ketua 1 PPBI Sekar Jagad—memaparkan sejarah, filosofi, serta pengembangan batik di Yogyakarta. Ia menekankan pentingnya memandang batik sebagai bagian dari ekosistem warisan budaya yang mencakup pengetahuan, nilai, keterampilan, dan identitas komunitas.

Laretna juga menyoroti perjalanan perempuan pembatik di Imogiri yang terdampak gempa bumi 2006, namun kemudian mampu bangkit, membangun kemandirian, dan memperkuat kehidupan komunitas melalui batik.

Narasumber kedua, Afif Syakur—praktisi batik dan Ketua 2 PPBI Sekar Jagad—membagikan pandangannya tentang peran batik dalam pendidikan budaya serta pemberdayaan masyarakat. Afif, yang disebut sebagai generasi keempat dari keluarga pembatik di Pekalongan, meneruskan tradisi batik melalui inovasi desain, edukasi, dan ketelitian dalam proses penciptaan karya. Melalui kiprahnya di PPBI Sekar Jagad Yogyakarta, ia turut mendorong program pengembangan kapasitas perempuan agar semakin mandiri melalui keterampilan, kreativitas, dan penguatan ekonomi berbasis budaya.

Ketua Program WCI Biennial Conference di Yogyakarta, Danie Prakosa, menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi internasional di Giriloyo. Ia menilai kunjungan tersebut menjadi bentuk penghormatan bagi masyarakat lokal sekaligus membuka ruang dialog budaya antara komunitas internasional dan para pelaku budaya di Yogyakarta.