Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) memberangkatkan delegasinya ke Brussel, Belgia, untuk mengikuti konferensi internasional sebagai bagian dari upaya diplomasi kemanusiaan dan perdamaian global. Delegasi Indonesia diterbangkan dari Jakarta pada Ahad (19/04/2026) petang.
Delegasi GPCI terdiri dari sejumlah tokoh nasional yang memiliki rekam jejak di bidang sosial, keagamaan, dan politik. Mereka adalah Wanda Hamidah, Prof Sudarnoto, Arif Rahmadi Haryono, Prof Heru Susetyo, Feri Amsari, serta Gustika Jusuf Hatta.
Keikutsertaan delegasi Indonesia dalam forum tersebut disebut sebagai bentuk kontribusi masyarakat sipil untuk mendorong solusi damai atas berbagai konflik global yang berdampak pada krisis kemanusiaan. Melalui pendekatan dialog dan kolaborasi lintas negara, delegasi diharapkan menyampaikan perspektif Indonesia yang menekankan nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian.
Selama berada di Brussel, delegasi GPCI dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda, mulai dari diskusi panel, pertemuan dengan pemangku kepentingan internasional, hingga forum advokasi kebijakan yang berfokus pada penyelesaian konflik secara damai dan berkelanjutan.
Arif Rahmadi Haryono, perwakilan delegasi GPCI dari Dompet Dhuafa, menyatakan keberangkatan ini ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada komunitas internasional terkait blokade kemanusiaan terhadap Gaza dan Palestina. “Insyaallah petang ini enam delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia berangkat ke Brussel untuk menghadiri kongres global. Tujuannya adalah menekan atau memberikan pesan ke seluruh dunia atas blokade kemanusiaan yang dilakukan Zionis kepada Gaza dan Palestina,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum tersebut dinilai sebagai momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya terhadap perjuangan rakyat Palestina. “Saya pikir ini menjadi salah satu momentum penting Indonesia untuk menguatkan positioningnya terhadap perjuangan Rakyat Palestina,” lanjutnya.
Prof Sudarnoto, perwakilan delegasi GPCI dari MUI, menyebut kehadiran delegasi membawa aspirasi masyarakat Indonesia yang menginginkan dunia lebih damai dan berkeadilan. “Ini adalah bagian dari ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa suara kemanusiaan tetap hadir dan diperjuangkan di tingkat global. Di sana kami juga mendorong dan mengedepankan misi untuk membuka gerbang bantuan kemanusiaan dapat masuk ke wilayah-wilayah konflik,” katanya.
Feri Amsari, delegasi GPCI yang juga pakar hukum tata negara, menekankan pentingnya diplomasi dan tekanan politik untuk membuka ruang bantuan kemanusiaan. “Jadi, diplomasi ini yang memastikan tekanan kepada Pemerintah Israel beserta sekutunya, seperti Amerika, untuk membuka ruang bantuan kemanusiaan. Jadi bantuan kemanusiaan jangan ditembaki, karena itu sudah tidak benar secara hukum humanitarian. Tekanan politik ini penting menjadi sandaran utama dari berbagai langkah untuk kemanusiaan,” ujarnya.
GPCI menyatakan partisipasi ini diharapkan memperkuat jejaring kolaborasi global serta membuka ruang dialog yang lebih luas dalam mencari solusi damai yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya tersebut juga disebut sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.