Ketidakpastian global dinilai kian menguat seiring memanasnya konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia dan mendorong inflasi harga minyak global, yang kemudian berpotensi menimbulkan efek lanjutan berupa tekanan inflasi baru serta gejolak di pasar keuangan global.
Chief Investment Officer (CIO) DBS Bank, Hou Wey Fook, mengatakan kondisi ini menghadirkan dilema klasik bagi investor: bertahan dengan strategi defensif atau memanfaatkan volatilitas untuk mencari peluang. Dalam paparan online media briefing DBS CIO Insight bertajuk Resilience in Chaos pada Jumat (13/3), ia menekankan pentingnya membangun ketahanan portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian, khususnya akibat konflik di Timur Tengah.
Hou menilai, meskipun secara historis konflik global kerap menguntungkan saham AS, investor tidak boleh lengah. Menurutnya, konflik yang masih berkembang menuntut pendekatan manajemen risiko yang lebih disiplin.
Salah satu strategi yang disarankan adalah meningkatkan eksposur terhadap emas, serta mengurangi sebagian porsi saham AS dengan mengalihkannya ke indeks saham berisiko rendah seperti S&P 500 Low Volatility Index. “Kondisi ini digambarkan sebagai masa terbaik sekaligus terburuk, sebab peluang dan risiko hadir bersamaan,” ujar Hou.
Ia menjelaskan ketegangan di Timur Tengah saat ini menjadi faktor utama yang memengaruhi aset berisiko melalui kenaikan harga minyak. Iran, sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dinilai memegang peran penting dalam dinamika tersebut. Dampak terhadap harga minyak disebut sangat bergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dan LNG global.
DBS menilai kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi, membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral, serta menekan pertumbuhan ekonomi global.
Selain faktor geopolitik, Hou juga mengingatkan investor untuk mencermati potensi perubahan arah kebijakan moneter di Federal Reserve. Ia menyebut pandangan kebijakan yang berkembang menunjukkan peningkatan produktivitas berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga secara agresif tanpa memicu inflasi.
DBS turut menggarisbawahi pentingnya diversifikasi, terutama menjauh dari aset yang sudah terlalu padat (crowded trades). Ketegangan geopolitik disebut telah memicu aksi ambil untung di pasar yang sebelumnya mencatatkan kinerja kuat seperti Korea dan Jepang. Namun, kondisi itu dinilai bersifat sementara karena ketika volatilitas mereda, investor diperkirakan kembali berfokus pada fundamental.
Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, DBS merekomendasikan peningkatan eksposur ke saham pasar negara berkembang (emerging markets/EM) dan Jepang. Saham EM dinilai berpotensi diuntungkan oleh penurunan suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, pertumbuhan laba yang kuat, serta posisi investor yang masih relatif ringan.
Sementara itu, saham Jepang disebut didukung oleh stimulus fiskal yang akan datang, reformasi tata kelola perusahaan, serta daya tarik selisih imbal hasil yang kompetitif.
Hou menekankan strategi alokasi aset yang netral namun selektif. Artinya, tidak ada posisi overweight yang ekstrem, tetapi tetap diperlukan preferensi taktis. Untuk saham, ia menyampaikan pandangan positif pada saham Asia atau eks-Jepang. Jepang dinilai netral dengan bias positif, sementara AS cenderung netral karena risiko konsentrasi dan valuasi.

