BERITA TERKINI
Data MOHW Taiwan: Perawat Layanan Rumah Perempuan Lima Kali Lebih Banyak daripada Laki-laki

Data MOHW Taiwan: Perawat Layanan Rumah Perempuan Lima Kali Lebih Banyak daripada Laki-laki

Taipei — Statistik terbaru Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) Taiwan menunjukkan ketimpangan gender yang mencolok dalam sektor layanan perawatan rumah. Jumlah perawat layanan rumah perempuan tercatat sekitar lima kali lipat dibandingkan laki-laki.

Berdasarkan analisis gender sepanjang 2024, total terdapat 63.918 petugas yang memberikan layanan perawatan rumah tangga. Dari jumlah itu, 10.745 orang adalah laki-laki dan 53.173 orang perempuan.

Sekretaris Jenderal Taiwan Family Care Association (TFCA), Jenny Chen (陳景寧), menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari stereotip budaya yang masih kuat mengaitkan pekerjaan perawatan dengan peran perempuan. Menurutnya, profesi perawat layanan rumah dan tenaga perawatan jangka panjang memiliki kemiripan dengan profesi keperawatan, yang dalam pandangan stereotip kerap dianggap membutuhkan kemampuan merawat orang lain dan karenanya dilekatkan pada perempuan.

Dari sisi usia, data juga memperlihatkan perbedaan distribusi berdasarkan gender. Kelompok usia di bawah 25 tahun menjadi proporsi paling kecil. Perawat layanan rumah laki-laki umumnya berasal dari kelompok usia produktif muda dan menengah, sementara perawat perempuan didominasi kelompok usia menengah ke atas.

Chen mengatakan stereotip bahwa “perempuan lebih pandai merawat” mulai memunculkan persoalan di lapangan. Dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat kelompok “anak laki-laki sebagai pengasuh” menghadapi tantangan besar di Taiwan. Menurutnya, konsep seperti “laki-laki harus kuat” serta pandangan “laki-laki bekerja di luar, perempuan mengurus rumah” masih tertanam dalam pola pikir sebagian masyarakat.

Ia juga menyoroti adanya ekspektasi tersirat bahwa menantu perempuan seharusnya merawat orang tua pasangan. Sementara itu, pandangan istri disebut telah berubah, yang pada akhirnya dapat memicu konflik dalam rumah tangga.

Terkait kesulitan yang dihadapi pengasuh laki-laki, Chen menyebut hal itu tercermin dalam sejumlah kasus tragedi perawatan. Ia mengatakan bahwa meskipun pengasuh laki-laki hanya mencakup sekitar 30 persen dari total pengasuh di Taiwan, proporsi laki-laki dalam kasus kekerasan dan tragedi perawatan mencapai 70 persen, sedangkan perempuan sekitar 30 persen. Menurut Chen, hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan ketahanan laki-laki dalam peran sebagai pengasuh relatif lebih rendah.

Chen menambahkan bahwa sektor keperawatan sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong partisipasi laki-laki. Ia berharap industri layanan perawatan rumah juga bergerak menuju kesetaraan gender, salah satunya melalui dukungan kebijakan yang lebih sistematis, termasuk insentif pemerintah untuk mendorong laki-laki yang memiliki pengalaman merawat agar bergabung sebagai perawat layanan rumah.

Menurutnya, ketika stereotip gender terkait “perawatan” dapat dipatahkan, rasa aman dapat tercipta sehingga laki-laki tidak lagi terbatasi oleh stigma lama dan tidak merasa bahwa menjadi pengasuh adalah sesuatu yang memalukan atau merugikan diri sendiri.