Pernyataan tentang “Agenda Elit Global 2030” kembali ramai dibicarakan setelah Darma Pangrekun mengulasnya dalam sebuah tayangan video di YouTube yang belakangan banyak diperbincangkan. Dalam dialog tersebut, Darma menyampaikan keyakinannya bahwa berbagai kebijakan global yang terlihat saat ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang disebutnya telah disusun puluhan tahun lalu.
Sejak awal pembahasan, Darma menyebut agenda menuju 2030 sebagai proyek sistematis yang, menurutnya, tidak banyak disadari masyarakat. Ia memprediksi akan muncul kondisi ketika banyak orang kehilangan pekerjaan dan kemudian bergantung pada bantuan pangan. Dalam konteks itu, ia menyinggung pola bantuan pangan yang ia kaitkan dengan wacana makan bergizi gratis (MBG) yang belakangan ramai dibahas.
Darma menyatakan program-program tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menyinggung adanya dokumen dan peta jalan global yang, menurutnya, menunjukkan arah perubahan ekonomi, sosial, hingga politik dunia menuju tahun 2030. “Ini bukan sekadar slogan, tapi agenda global dengan timeline yang jelas,” kata Darma. Ia juga menilai banyak negara berdaulat mengikuti agenda tersebut tanpa banyak pertanyaan kritis.
Dalam pemaparannya, Darma menyoroti sejumlah poin SDGs, di antaranya zero hunger, good health and wellbeing, quality education, dan gender equality. Ia menilai narasi yang disampaikan ke publik kerap berbeda dengan implementasi yang, menurutnya, dapat berdampak jangka panjang terhadap kedaulatan negara.
Salah satu isu yang paling ia soroti adalah zero hunger atau penghapusan kelaparan. Darma mengaitkannya dengan makanan hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO). Dalam pandangannya, ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pangan dapat meningkat.
Darma juga menyinggung konsep smart farming, yang ia kaitkan dengan pertanian berbasis teknologi dan kepemilikan korporasi besar. Menurutnya, sistem tersebut berpotensi menggeser pola pertanian tradisional dan membuat masyarakat semakin bergantung pada sistem pangan global.
Di sektor kesehatan, Darma mengaitkan agenda menuju 2030 dengan pemaksaan vaksin. Ia menyebut narasi kesehatan global sebagai alat pengendalian yang telah dirancang sejak lama. Ia juga mengkritisi bagaimana isu kesehatan digunakan sebagai dasar pembenaran kebijakan yang bersifat wajib dan masif. Pandangan ini, meski menuai pro dan kontra, disebut mendapat respons luas dari warganet di kolom komentar video tersebut.
Pada sektor pendidikan, Darma menyatakan pendidikan modern tidak lagi netral. Ia menyebutnya sebagai ruang indoktrinasi dengan pola pikir yang diseragamkan. Sementara terkait gender equality, Darma berpendapat konsep tersebut berpotensi memicu konflik dalam unit keluarga jika tidak dipahami secara utuh dan kontekstual.
Selain itu, Darma menyinggung agenda energi bersih dan sistem smart grid. Ia mengaitkannya dengan potensi pengawasan digital serta registrasi berbasis teknologi.
Di akhir pembahasan, Darma menyebut Indonesia telah berada di fase akhir dari agenda global menuju 2030. Pernyataan yang ia sampaikan kemudian memicu diskusi di ruang publik, mulai dari pihak yang mendukung hingga yang mempertanyakan validitas pandangannya.

