BERITA TERKINI
Dari Tata Busana ke Psikologi: Perjalanan Kei dan Nabila Menempuh Jalur Baru di Kampus

Dari Tata Busana ke Psikologi: Perjalanan Kei dan Nabila Menempuh Jalur Baru di Kampus

Perjalanan pendidikan tidak selalu berjalan lurus. Hal itu terlihat dari kisah Kei dan Nabila, dua mahasiswi Psikologi yang memiliki latar belakang berbeda dari kebanyakan teman seangkatannya. Keduanya merupakan lulusan SMK Tata Busana, yang sehari-hari lekat dengan benang, pola, dan praktik menjahit, sebelum akhirnya beralih mempelajari perilaku dan proses mental manusia.

Kei mengaku ketertarikannya pada dunia fesyen sudah muncul sejak kecil. Ia terbiasa menggambar desain busana dan mengoleksi boneka Barbie, lalu menjadikan SMK Tata Busana sebagai target pendidikan karena dianggap sejalan dengan minatnya. Berbeda dengan Kei, Nabila menyebut pilihannya masuk jurusan Tata Busana di SMK terjadi karena keadaan. Ia tidak bisa masuk jurusan yang diinginkan saat itu, meski pada akhirnya tetap merasa menikmati proses belajar karena menyukai kegiatan yang bersifat praktik.

Menurut keduanya, pembelajaran di SMK Tata Busana sangat intens dan berfokus pada keterampilan. Mereka menyebut dalam sepekan bisa menjalani praktik tiga hingga empat kali. Intensitas tersebut, kata mereka, justru terasa menyenangkan karena sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.

Pengalaman selama di Tata Busana juga membentuk karakter kerja yang detail. Mereka menilai kebiasaan memastikan kerapian jahitan, pemilihan bahan, hingga hasil akhir membuat mereka menjadi lebih teliti dan cenderung perfeksionis. Dari kebiasaan itu pula muncul kepekaan terhadap kualitas produk fesyen yang mereka temui sehari-hari.

Setelah lulus SMK, arah Kei dan Nabila mulai berubah. Kei sempat bekerja, namun merasa perlu memperluas peluang dan “naik level” dalam karier. Ia kemudian memilih Psikologi karena menilai bidang tersebut membuka banyak kesempatan, termasuk untuk pekerjaan yang memerlukan pemahaman tentang manusia. Sementara Nabila menghadapi situasi berbeda. Ia mengatakan orang tuanya tidak mengizinkan melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan Tata Busana. Psikologi di UIN Jogja kemudian menjadi pilihan, dengan pertimbangan prospek di Yogyakarta yang dinilai luas.

Keputusan beralih jalur itu, menurut mereka, mendapat respons positif dari keluarga dan teman-teman. Lingkungan sekitar disebut mendukung dan tidak menyangka lulusan SMK Tata Busana bisa melanjutkan ke Psikologi, termasuk di kampus negeri di Yogyakarta.

Meski dukungan datang, tantangan akademik tetap muncul. Kei dan Nabila mengungkapkan perbedaan signifikan antara pola belajar di SMK yang dominan praktik dengan perkuliahan Psikologi yang menuntut kemampuan membaca, menulis, dan menganalisis melalui review jurnal, esai, serta makalah. Mereka merasa sempat tertinggal dibanding mahasiswa yang berasal dari SMA. Dari sisi sosial, penyesuaian dinilai lebih ringan, meski mereka perlu beradaptasi dengan budaya belajar teman-teman yang sudah lebih terbiasa dengan bidang akademik.

Di tengah proses adaptasi, keduanya menilai keterampilan dari Tata Busana tetap relevan. Ketelitian dalam mengerjakan tugas, kebiasaan memeriksa pekerjaan berulang, kedisiplinan, serta etos kerja tinggi disebut menjadi modal yang membantu mereka mengikuti ritme perkuliahan.

Dalam perkuliahan Psikologi, Kei menyatakan ketertarikannya pada Psikologi Industri dan Organisasi, sejalan dengan rencananya menjadi HRD. Adapun Nabila mengaku lebih tertarik pada topik Perkembangan Rentang Hidup. Keduanya juga merasakan perubahan cara berpikir: dari ranah yang mereka anggap lebih kreatif di Tata Busana menuju tuntutan berpikir kritis dan analitis di Psikologi.

Untuk rencana ke depan, Kei dan Nabila sama-sama memiliki gagasan mengaitkan pengalaman di dua bidang tersebut. Kei masih ingin kembali bekerja di lingkungan butik, namun dengan peran berbeda sebagai HRD yang lebih memperhatikan kesehatan mental pekerja. Nabila juga ingin tetap memanfaatkan sisi kreatifnya, sambil lebih peka terhadap aspek psikologis dalam pekerjaan yang dijalani.

Kisah Kei dan Nabila menunjukkan bahwa perubahan jalur pendidikan tidak selalu menjadi hambatan. Pengalaman yang berbeda dapat menjadi bekal, membentuk perspektif baru, dan membantu seseorang menavigasi tantangan di bidang yang sama sekali baru.