Presiden Prabowo Subianto melanjutkan rangkaian diplomasi strategis di Eropa dengan mengunjungi Paris, Prancis, setelah menuntaskan agenda di Moskow, Rusia. Kunjungan ini disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah memperluas kemitraan internasional di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Di Paris, Prabowo disambut secara resmi oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée. Penyambutan militer dengan pasukan kehormatan mewarnai agenda tersebut dan dinilai mencerminkan hubungan kedua negara serta penghargaan Prancis terhadap Indonesia sebagai mitra strategis.
Pertemuan kedua pemimpin berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif. Dalam pembicaraan empat mata, Prabowo dan Macron membahas penguatan kerja sama bilateral di sejumlah sektor prioritas, dengan penekanan pada langkah konkret untuk memperdalam kolaborasi di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Pemerintah Indonesia memandang Prancis sebagai mitra penting bagi berbagai agenda pembangunan nasional. Kerja sama yang telah berjalan mencakup sektor pertahanan, termasuk penguatan industri dan pengadaan alat utama sistem persenjataan, yang dikaitkan dengan upaya modernisasi pertahanan nasional.
Selain pertahanan, pembahasan juga menyentuh bidang energi dan transisi energi. Pemerintah mendorong percepatan pengembangan energi baru terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memenuhi komitmen pembangunan berkelanjutan.
Kerja sama turut diperluas pada sektor infrastruktur dan transportasi yang dinilai penting untuk meningkatkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks tersebut, kemitraan dengan Prancis diharapkan dapat menghadirkan investasi dan transfer teknologi yang berdampak langsung bagi pembangunan nasional.
Di bidang pendidikan dan riset, Indonesia dan Prancis juga disebut terus memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah menilai penguatan kerja sama ini sebagai investasi jangka panjang guna mendukung daya saing Indonesia di tingkat global.
Sejumlah isu lain ikut menjadi bagian agenda pembahasan, termasuk ekonomi kreatif dan penanganan perubahan iklim. Pemerintah menilai pendekatan ini menunjukkan upaya membangun kemitraan yang tidak semata berorientasi ekonomi, tetapi juga terkait isu global yang lebih luas.
Berdasarkan keterangan pemerintah, kunjungan ke Paris merupakan kelanjutan diplomasi strategis Indonesia di Eropa. Setelah membangun komunikasi intensif dengan Rusia melalui pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin, pemerintah melanjutkan pendekatan ke Prancis untuk membangun keseimbangan kerja sama yang saling melengkapi.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pertemuan Prabowo dan Macron berlangsung intensif dan mencakup berbagai isu strategis. Ia menyatakan kedua pemimpin berkomitmen memperkuat kemitraan yang telah terjalin serta menyelaraskan pandangan terhadap isu-isu global.
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk menyampaikan posisi strategisnya dalam menghadapi dinamika geopolitik internasional. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga stabilitas global dan mendorong perdamaian dunia sebagai bagian dari peran aktif Indonesia di kancah internasional.
Secara lebih luas, langkah diplomasi ini dipandang mencerminkan pendekatan aktif dan adaptif pemerintah dalam merespons perubahan lanskap global. Melalui penguatan kemitraan di Eropa, Indonesia berupaya membuka peluang kerja sama yang lebih luas sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional, termasuk memperluas akses pasar dan memperkuat jaringan perdagangan internasional.
Kunjungan ke Prancis juga menegaskan arah kebijakan luar negeri yang berorientasi pada kepentingan nasional dengan mengedepankan prinsip kerja sama yang saling menguntungkan. Pemerintah menyatakan penguatan hubungan dengan mitra strategis seperti Prancis diharapkan berkontribusi pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Dalam kerangka yang lebih luas, pemerintah juga menyebut Indonesia berupaya memperkuat peran sebagai jembatan kerja sama antara Asia dan Eropa, tidak hanya melalui hubungan bilateral, tetapi juga lewat sinergi dalam kerja sama multilateral. Pendekatan ini dikaitkan dengan upaya memperluas pengaruh diplomatik dan meningkatkan kontribusi Indonesia dalam menghadapi tantangan global, termasuk stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, dan transformasi digital.