Amerika Serikat genap berusia 249 tahun pada 4 Juli 2025. Dalam rentang sejarah tersebut, negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini beberapa kali menjadi korban sekaligus pemicu krisis ekonomi yang berdampak luas ke berbagai kawasan.
Aktivitas ekonomi AS menghasilkan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$ 26,9 triliun, setara kurang lebih 25% dari PDB global. Skala ekonomi ini membuat setiap guncangan di AS dapat cepat menyebar ke negara lain, baik melalui pasar keuangan, perdagangan, maupun sentimen pelaku usaha dan investor.
Data National Bureau of Economic Research (NBER) mencatat AS telah mengalami 34 kali resesi sejak 1857 hingga saat ini. Resesi terbesar adalah The Great Depression, sementara resesi paling baru terjadi pada 2020. Rata-rata durasi resesi tercatat 17 bulan, namun cenderung lebih pendek sejak 1980 dengan rata-rata sekitar 10 bulan. Catatan ini menunjukkan bahwa krisis dan resesi merupakan bagian dari siklus bisnis yang berulang dalam sejarah ekonomi AS.
The Great Depression: krisis terdalam dalam sejarah modern
The Great Depression dikenal sebagai krisis ekonomi paling parah dalam sejarah modern dunia. Krisis ini dimulai pada 1929 dan berdampak ke berbagai negara selama lebih dari satu dekade, terutama sepanjang 1930-an, sebelum berakhir sekitar 1939 atau menjelang Perang Dunia II.
Pemicu awalnya terjadi pada 29 Oktober 1929, yang dikenal sebagai Black Tuesday, ketika bursa saham Wall Street jatuh tajam. Salah satu latar belakangnya adalah maraknya margin trading, yakni praktik investor meminjam uang untuk membeli saham. Praktik tersebut mendorong gelembung harga saham yang kemudian runtuh, menggerus kekayaan dan kepercayaan investor.
Tekanan kemudian menjalar ke sektor perbankan. Banyak bank telah menyalurkan pinjaman dalam jumlah besar, dan ketika kondisi memburuk, ribuan bank tutup. Tabungan masyarakat ikut lenyap, memicu penarikan dana secara massal.
Dampaknya meluas ke ekonomi riil. Hilangnya tabungan dan pendapatan membuat investasi jatuh, perusahaan bangkrut, dan pemutusan hubungan kerja meningkat. Ekonomi AS tercatat terkontraksi sekitar 26,7% pada periode 1929–1933. Tingkat pengangguran melonjak hingga 25,6% pada 1933, yang menjadi rekor tertinggi dalam sejarah AS. Harga barang turun tajam dan memicu deflasi, yang turut memperburuk sektor pertanian.
Dalam upaya meredam krisis, Presiden Franklin D. Roosevelt meluncurkan paket stimulus New Deal. Program ini mencakup proyek pekerjaan publik untuk menciptakan jutaan lapangan kerja. Roosevelt juga mereformasi sistem keuangan dengan mendirikan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) serta membentuk Securities and Exchange Commission (SEC) untuk mengatur pasar saham.
Krisis ini tidak berhenti di AS. Dampaknya menjalar ke Eropa, Amerika Latin, dan Asia, serta memperparah ketidakstabilan politik. Dalam catatan sejarah, situasi tersebut turut berkaitan dengan menguatnya ideologi ekstrem, termasuk fasisme di Jerman dan militerisme di Jepang, yang kemudian menjadi salah satu faktor menuju Perang Dunia II.
Krisis Subprime Mortgage: pemicu Great Recession 2008–2009
Contoh krisis global yang lebih baru adalah krisis Subprime Mortgage, yang berkembang dari gelembung kredit perumahan di AS pada pertengahan 2000-an dan meledak pada 2007–2008. Dampaknya memicu resesi global yang dikenal sebagai Great Recession.
Krisis ini bermula dari praktik bank yang memberikan kredit pemilikan rumah (KPR) kepada peminjam yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan bayar memadai. Lonjakan penyaluran kredit membuat harga rumah terus naik, membentuk gelembung properti pada 2001–2006.
Risiko semakin besar ketika kredit KPR tersebut disekuritisasi: pinjaman dikumpulkan, dikemas menjadi produk keuangan seperti MBS dan CDO, lalu dijual kepada investor, termasuk investor global. Ketika suku bunga naik dan harga rumah turun, gelombang gagal bayar meningkat. Krisis memuncak pada 2008, ditandai dengan runtuhnya pasar KPR dan guncangan hebat di pasar keuangan yang melibatkan lembaga investasi besar, termasuk Lehman Brothers.
Dampak ekonomi di AS terlihat dari kontraksi PDB sebesar 4,3% dan tingkat pengangguran yang menembus 9,5%. Lebih dari 15 juta orang kehilangan pekerjaan. Jutaan orang juga kehilangan rumah akibat penyitaan, sementara harga rumah dilaporkan jatuh sekitar 30–40%.
Untuk menahan dampak krisis, Presiden Barack Obama mengeluarkan stimulus sekitar US$ 800 miliar pada 2009, yang diarahkan antara lain untuk infrastruktur, tunjangan, dan kebijakan pajak. Federal Reserve juga memangkas suku bunga mendekati 0% dan meluncurkan Quantitative Easing (QE) untuk menyuntik likuiditas ke sistem keuangan.
Selain The Great Depression dan krisis Subprime Mortgage, AS juga pernah mengalami sejumlah krisis ekonomi lain sepanjang 249 tahun sejarahnya. Namun, dua episode tersebut kerap menjadi rujukan utama karena kedalaman dampaknya serta efek rambatnya yang meluas ke perekonomian global.

