Badan pengelola investasi negara Danantara Indonesia bersiap memasuki fase eksekusi pada 2026, setelah sebelumnya lebih dikenal sebagai “kendaraan strategis” dalam perencanaan proyek. Pada tahap ini, penyaluran dana mulai berjalan dan sejumlah proyek ditargetkan masuk ke tahap pelaksanaan.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan Danantara telah memasuki fase penyaluran investasi sekitar USD12 miliar atau setara Rp202 triliun. Dana tersebut diarahkan ke berbagai proyek strategis, mulai dari energi, pangan, hingga restrukturisasi BUMN, dengan sebagian inisiatif disebut sudah berjalan sejak awal tahun.
Penilaian serupa disampaikan tim riset Stockbit Sekuritas yang melihat langkah ini sebagai pergeseran Danantara dari tahap perencanaan menuju eksekusi. Dalam catatan riset yang dirilis Sabtu, 23 Januari 2026, Stockbit menyebut penyaluran dana tersebut diarahkan ke proyek langsung, pasar publik, dan inisiatif strategis nasional.
Salah satu proyek yang paling dekat dengan publik adalah program waste-to-energy (WTE). Danantara dijadwalkan mengumumkan pemenang lelang tahap pertama pada pertengahan Februari 2026, kemudian dilanjutkan dengan groundbreaking pada akhir Maret 2026. Tahap awal difokuskan pada empat kota, yakni Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta. Untuk tahap kedua, Danantara menargetkan enam kota atau kabupaten tambahan, meski lokasi rinci belum disebutkan.
Dari sisi kebutuhan investasi, satu fasilitas WTE diperkirakan memerlukan dana Rp2,5–3 triliun atau sekitar USD150–170 juta. Proyek ini diposisikan tidak hanya sebagai penyedia energi alternatif, tetapi juga sebagai upaya penanganan persoalan sampah perkotaan.
Selain energi, Danantara juga menyasar sektor yang dinilai sensitif secara sosial dan politik, yakni tekstil dan pangan. Untuk sektor tekstil, Danantara menyiapkan dukungan pendanaan sekitar USD6 miliar atau Rp101 triliun untuk membentuk BUMN baru. Dana tersebut disebut akan digunakan sebagai insentif dan pembiayaan untuk merespons tekanan tarif global serta persaingan internasional yang semakin ketat.
Di sektor pangan, fokus diarahkan pada stabilitas harga. Danantara mengalokasikan USD1,2 miliar atau sekitar Rp20 triliun untuk membangun 12 pabrik peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi. Proyek ini ditujukan untuk meredam fluktuasi harga day old chick (DOC) yang kerap berimbas pada gejolak harga ayam di tingkat konsumen.
Tim riset Stockbit menilai arah investasi ini menunjukkan Danantara tidak semata mengejar imbal hasil finansial jangka pendek, melainkan juga diarahkan untuk stabilisasi sektor strategis yang berdampak pada inflasi dan daya beli.
Danantara juga menyiapkan langkah di luar negeri melalui program Kampung Haji di Timur Tengah. Danantara telah menandatangani kesepakatan akuisisi hotel Novotel berkapasitas 1.461 kamar dan lahan 4,4 hektare di Thakher City, Mekkah. Nilai pembelian lahan disebut dirumorkan sekitar USD1 miliar atau Rp17 triliun, sedangkan akuisisi hotel diperkirakan mencapai USD500 juta atau Rp8,4 triliun. Kawasan tersebut direncanakan dikembangkan menjadi hotel, ruang ritel, dan fasilitas pendukung untuk melayani jemaah haji dan umrah asal Indonesia.
Selain itu, Danantara berencana menambah pendanaan sekitar USD800 juta atau Rp13,4 triliun pada kuartal IV 2026 untuk pembangunan kawasan Kampung Haji secara terpadu.
Agenda lain yang tetap menjadi prioritas adalah hilirisasi. Danantara menyiapkan proyek strategis dengan nilai total sekitar USD6 miliar atau Rp101 triliun yang akan mulai digarap pada 2026. Proyek tersebut meliputi pembangunan smelter aluminium dari alumina, smelter grade alumina dari bauksit, fasilitas produksi bioavtur, pengolahan kelapa terintegrasi, serta produksi bioetanol. Rencana ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat nilai tambah domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Di luar investasi baru, Danantara juga menggarap restrukturisasi BUMN. Jumlah entitas BUMN ditargetkan dipangkas dari sekitar 1.000 perusahaan menjadi 200 entitas. Salah satu proses yang berjalan adalah merger BUMN Karya yang ditargetkan rampung pada kuartal I 2026. Danantara juga disebut berencana membatasi injeksi modal untuk penyelamatan BUMN dan lebih memfokuskan dana pada investasi yang menciptakan nilai tambah.
Untuk mendanai agenda tersebut, Danantara berencana menerbitkan kembali Patriot Bond pada semester I 2026 senilai sekitar USD1,2 miliar atau Rp20 triliun, serta membuka peluang penerbitan obligasi global. Di sisi lain, Danantara juga mengantongi dividen dari BUMN yang disebut sejauh ini mencapai USD5 miliar atau Rp84 triliun.
Dengan dimulainya fase eksekusi pada 2026, tahun ini dipandang menjadi ujian bagi Danantara untuk menunjukkan kemampuan menyeimbangkan ambisi proyek strategis dengan disiplin investasi layaknya sovereign wealth fund.

